Pages

KLIK ME

Friday, 27 February 2015

Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan Menggunakan Media Surat Kabar pada Siswa






PEMBALAJARAN BAHASA INDONESIA DENGAN
MENGGUNAKAN MEDIA SURAT KABAR PADA SISWA
KELAS V MI MAMBAUL ULUM KASRI BULULAWANG

SKRIPSI
Oleh:
Fita Mustafida
07140070
Hardian Harno
1447041037

ABSTRAK
Mustafida, Fita. 2009. Pembelajaran Bahasa Indonsia dengan Menggunakan Media Surat Kabar pada Siswa Kelas V MI Mambaul Ulum Kasri Bululawang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Guru Madrasa Ibtidaiyah, Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang. Pembimbing: Mohammad Samsul Ulum, M.A.
Kata kunci: Pembelajaran Bahasa Indonesia, media surat kabar
Rendahnya kualitas pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar salahsatunya disebabkan oleh sistem pembelajaran yang begitu-begitu saja, tidak ada kreasi dan inovasi guru dalam pembelajaran. Menanggapi masalah tersebut maka diperlukan kemampuan dan ketrampilan guru guna menjadikan pembelajaran lebih menarik dan menyenangkan. Sehingga dapat memperoleh hasil belajar yang optimal. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan menerapkan media dalam pembelajaran. Upaya yang dimaksud adalah penggunaan media surat kabar dalam pembelajaran Bahasa Indonesia pada siswa kelas V MI Mambaul Ulum Kasri Bululawang. Dengan rumusan masalah; 1) bagaimana perencanaan penggunaan media surat kabar dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas V MI Mambaul Ulum Kasri Bululawang? 2) bagaimana pelaksanaan penggunaan media surat kabar dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas V MI Mambaul Ulum Kasri Bululawang? 3) bagaimana penilaian proses dan hasil dari penggunaan media surat kabar dalam pembelajaran Bahasa Indonesia pada siswa kelas V MI Mambaul Ulum Kasri Bululawang?
Untuk mencapai tujuan tersebut, maka digunakan rancangan penelitiandengan menggunakan pendekatan kualitatif, dan jenis penelitian yang dipilih adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Tahapan penelitiannya mengikuti model Lewin menurut Elliot, yaitu meliputi mengidentifikasi masalah, memeriksalapangan, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksiserta revisi perencanaan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalahobservasi, wawancara, dokumentasi, dan pengukuran hasil tes belajar. Terdiri dari data kualitatif dan kuantitatif.
Hasil penelitian menunjukkan perencanaan pembelajaran denganmenggunakan media surat kabar dalam pembelajaran Bahasa Indonesia kelas VMI Mambaul Ulum Kasri Bululawang diawali dengan: a. Menjabarkan kompetensi dasar yang telah ada dalam silabus ke dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), b. menentukan media dan metode yang akan diterapkan. Pelaksanan pembelajaran dengan menggunakan media surat kabar dalam pembelajaran Bahasa Indonesia kelas V MI Mambaul Ulum Kasri Bululawang, guru menggunakan beberapa metode pembelajaran seperti kerja kelompok/team quis, diskusi, inquiry dan lain-lain, untuk membantu dalam penyampaian pesan dan meningkatkan partisipasi siswa dalam kelas.
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Rendahnya hasil belajar yang dicapai siswa tidak semata-mata disebabkan kemampuan siswa, tetapi juga bisa disebabkan kurang berhasilnya guru dalam mengajar. Karena salah satu tugas guru adalah sebagai pengajar; yang lebih menekankan kepada tugas dalam merencanakan dan melaksanakan pengajaran. Dalam hal ini guru dituntut memiliki seperangkat pengetahuan dan ketrampilan teknis mengajar, disamping menguasai ilmu atau bahan yang akan diajarkan. Perlunya perubahan system pengajaran ini dapat dikaitkan dengan pendapat Tyson dan Canoll (1970), bahwa mengajar adalah sebuah cara dan sebuah proses hubungan timbal balik antara siswa dan guru yang sama-sama aktif melakukan kegiatan, dan menurut Nasution mengajar adalah suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaikbaiknya dan menghubungkannya dengan anak, sehingga terjadi proses belajar. Dalam hal ini lingkungan yang dimaksud salah satunya adalah media pembelajaran.
Dalam pembelajaran terdapat tiga komponen utama yang saling berpengaruh dalam proses belajar-mengajar. Ketiga komponen tersebut adalah (1) kondisi pembelajaran (2) metode pembelajaran, dan (3) hasil pembelajaran. Terkait tentang ketiga komponen tersebut maka guru harus mampu memadukan dan mengembangkannya, supaya kegiatan pembelajaran dapat berjalan sesuai yang diharapkan, tercapai tujuan pembelajaran, dan menuai hasil yang maksimal. Oleh karena itu, dengan bekal kemampuan dan ketrampilan yang dimiliki guru diharapkan mampu menjadikan pembelajaran lebih menarik dan menyenangkan, sehingga memperoleh hasil belajar yang optimal. Untuk mencapai kualitas pembelajaran tersebut, maka keterampilan guru dalam proses pembelajaran sangatlah penting dan harus ditingkatkan.
Keterampilan tersebut meliputi keterampilan merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi. Upaya yang dimaksud adalah penggunaan media dalam pembelajaran. Dengan penggunaan media diharapkan dapat meningkatkan kualitas proses belajar-mengajar yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas hasil belajar para siswa. Oleh karena itu, Sebagai seorang guru harus dapat menentukan media yang paling cocok untuk digunakan dalam pembelajaran karena tidak dapat dipungkiri kalau dalam penggunaan media tersebut terdapat kekurangan. Karena tidak ada satu mediapun yang dapat mengatasi media lainnya dalam segala aspeknya sehingga dapat menggantikan segala bentuk media yang lain. Ada beberapa jenis media pembelajaran yang biasa digunakan diantaranya adalah media grafis, audio, visual, audio-visual, dan sebagainya; pada intinya kesemua media tersebut bertujuan membantu mempertinggi atau mendukung berhasilnya suatu pembelajaran. Oleh karena itu, penggunaan media pembelajaran sangat bergantung pada tujuan pembelajaran, bahan pelajaran, kemudahanmemperoleh media yang diperlukan serta kemampuan guru dalam menggunakan media dalam proses pengajaran.
Jika dicermati lagi, media pembelajaran merupakan suatu alat yang membantu guru dalam kegiatan belajar-mengajar untuk memberikan pengalaman lebih konkrit, memotivasi serta mempertinggi daya serap dan daya ingat siswa dalam pembelajaran. Berdasarkan uraian tersebut maka media pembelajaran secara umum berfungsi untuk mengatasi hambatan dalam berkomunikasi, keterbatasan fisik dalam kelas, sikap pasif pada anak didik serta mempersatukan pengamatan anak didik. Penggunaan media pembelajaran secara tepat dan bervariasi dapatmengatasi sikap pasif anak; dalam hal ini media pembelajaran berguna untuk:(1) menimbulkan gairah belajar (2) memungkinkan interaksi yang lebihlangsung antara anak didik dengan lingkungan dan kenyataan (3) memungkinkan belajar sendiri-sendiri, menurut kemampuan dan minat anak. Menurut Hamalik,(1986) dalam Arsyad bahwa pemakaian media dalam pembelajaran dapat membangkitkan keinginan dan minat baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan dapat membantu siswa meningkatkan pemahaman, menyajikan data denganmenarik dan terpercaya, memudahkan penafsiran data dan memadatkan informasi.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Ratna tentang pemanfaatan media massa, baik berupa media cetak (koran, majalah, jurnal) ataupun media elektronik (televisi, radio, internet) dapat menarik perhatian siswa, serta meningkatkan kualitas pembelajaran dengan bukti meningkatnya hasil belajar siswa. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang sama (menggunakan media massa; khusus surat kabar) pada obyek yang berbeda dengan disertai penggunaan metode-metode pembelajaran yang variatif guna mendukung berhasilnya pelaksanaan pembelajaran. Karena penggunaan media pembelajaran tidak dapat berjalan sendiri tanpa adanya unsur lain yang berfungsi sebagai cara atau teknik untuk mengantarkan bahan pelajaran agar sampai kepada tujuan. Unsur yang dimaksud adalah metode pembelajaran.
Berangkat dari pentingnya perubahan sistem pembelajaran dan peningkatan out put pendidikan, maka penelitian tentang pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menggunakan media surat kabar pada siswa Kelas V MI Mambaul Ulum Kasri Bululawang perlu dilaksanakan.Penggunaan media surat kabar dalam pembelajaran tersebut diharapkan dapat memudahkan siswa untuk menerima materi yang diajarkan sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara maksimal, pembelajaran yang sebelumnya membosankan bagi siswa dan terkesan biasa-biasa saja kini dapat beralih peran menjadi pembelajaran yang lebih menyenangkan dan mengena pada siswa. Karena siswa dihadapkan pada situasi yang beda dari sebelumnya sehingga dari pengalaman tersebut siswa bisa menemukan pengetahuan baru.
B.     Rumusan Masalah
Dengan mengacu pada latar belakang masalah diatas, maka dapat dirumuskan rumusan masalah sebagai berikut:
1)      Bagaimana perencanaan penggunaan media surat kabar dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas V MI Mambaul Ulum Kasri Bululawang?
2)      Bagaimana pelaksanaan penggunaan media surat kabar dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas V MI Mambaul Ulum Kasri Bululawang?
3)      Bagaimana penilaian proses dan hasil dari penggunaan media surat kabar dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas V MI Mambaul Ulum Kasri Bululawang?

C.     Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk:
1)      Mendeskripsikan proses perencanaan penggunaan media surat kabar dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas V MI Mambaul Ulum Kasri Bululawang.
2)      Mendeskripsikan proses pelaksanaan penggunaan media surat kabar dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas V MI Mambaul Ulum Kasri Bululawang.
3)      Mendeskripsikan proses dan hasil penilaian dari penggunaan media surat kabar dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas V MI Mambaul Ulum Kasri Bululawang.



D.     Manfaat Penelitian
Secara umum manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah dapat menekan biaya seminimal mungkin dalam melakukan penelitian pendidikan, karena penelitian tindakan kelas (PTK) tidak diperlukan sample dalam jumlah besar, analisis data dilakukan secara kualitatif, dan guru sebagai peneliti dapat mengetahui dan menerapkan strategi/metode/alat peraga (media) dan sebagainya itu efektif atau tidak dalam meningkatkan kualitas belajar para siswa.Secara khusus Penelitian (PTK) dapat memberikan kegunaan bagi:
a.  Bagi siswa
Dapat membantu siswa yang mengalami masalah atau kesulitan belajar. Siswa akan tertarik menggikuti pelajaran karena terlibat langsung secara aktif dalam proses belajar mengajar; sehingga mendapatkan kemudahan dalam memahami suatu materi.
b. Bagi guru/peneliti
Guru akan mengetahui dan memahami pentingnya penggunaan media pembelajaran. Guru menjadi lebih kreatif dalam menyampaikan materi sehingga dapat meminimalisir kejenuhan dalam proses belajar mengajar.
c.  Bagi lembaga/sekolah
Dengan penelitian ini sekolah dapat mengembangkan sistem pembelajaran. Sedangkan bagi guru-guru yang lain hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi dalam memilih dan menerapkan suatu strategi, metode, atau media yang sesuai dengan tujuan atau kompetensi pembelajaran tertentu.

E.      Hipotesa Penelitian
Adapun rumusan hipotesis dalam penelitian ini adalah jika media suratkabar diterapkan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, maka kualitas hasil belajar siswa di kelas V MI Mambaul Ulum dapat ditingkatkan.
F.      Pembatasan Masalah
Oleh karena dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia terdapat empat keterampilan berbahasa yang harus dicapai oleh siswa; keterampilanmenyimak; membaca; berbicara; menulis. Maka pada penelitian ini hanya akan dikaji tentang dua keterampilan yaitu membaca dan berbicara. Dengan kompetensi dasar keterampilan membaca; menemukan informasi secara cepat dari berbagai teks khusus yang dilakukan melalui membaca memindai dan keterampilan berbicara; mengomentari persoalan factual disertai alasan yang mendukung dengan memperhatikan pilihan kata dan santun berbahasa.



BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.     Media Surat Kabar

1.      Pengertian Media Pembelajaran
Kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiahberarti tengah, perantara atau pengantar. Dalam kata lain media adalahsegala sesuatu yang dapat diindra yang berfungsi sebagaiperantara/sarana/alat dalam proses belajar mengajar. Sedangkan mediapembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untukmenyalurkan pesan dan merangsang terjadinya proses belajar pada siswa. Menurut Gagne’ dan Briggs secara implisit mengatakan bahwa mediapembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untukmenyampaikan isi materi pengajaran, yang terdiri dari antara lain buku, taperecorder, kaset, video camera, video recorder, film, slide (gambar bingkai),foto, gambar, grafik, televisi, dan computer. Dengan kata lain media adalahkomponen sumber belajar atau wahana fisik yang mengandung materiinstruksional di lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar Dilain pihak, National Education Association memberikan definisimedia sebagai bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audio-visualdan peralatannya; dengan demikian, media dapat dimanipulasi, dilihat, didengar, atau dibaca.

2.      Landasan Teoritis Penggunaan Media Pembelajaran
Pemerolehan pengetahuan dan keterampilan, perubahan-perubahan sikap dan perilaku dapat terjadi karena interaksi antara pengalaman barudengan pengalaman yang pernah dialami sebelumnya. Menurut Bruner adatingkatan utama modus belajar, yaitu pengalaman langsung (enactive),pengalaman piktorial/gambar (iconic), dan pengalaman abstrak (symbolic). Tingkatan pengalaman pemerolehan hasil belajar seperti itudigambarkan oleh Dale sebagai suatu proses komunikasi. Materi yangingin disampaikan dan diinginkan siswa dapat menguasainya disebut pesan.Guru sebagai sumber pesan menuangkan pesan ke dalam simbol-simboltertentu (enconding) dan siswa sebagai penerima menafsirkan symbolsimboltertentu sehingga dipahami sebagai pesan (decoding). Carapengolahan pesan oleh guru dan murid dapat digambarkan dalam tabel 2.1berikut:












Tabel 2.1 Pesan Dalam Komunikasi



Uraian di atas menunjukkan bahwa proses belajar mengajar dapatberhasil dengan baik, jika siswa dapat memanfaatkan semua alat inderanya.Semakin banyak alat indera yang digunakan untuk menerima dan mengolahinformasi semakin semakin besar kemungkinan informasi tersebutdimengerti dan dapat dipertahankan dalam ingatan. Dengan demikian, siswadiharapkan akan dapat menerima dan menyerap dengan mudah pesan-pesan dalam materi yang disajikan. Menurut levie & levie yang membaca kembali hasil-hasil penelitiantentang belajar melalui stimulus gambar dan stimulus kata atau visual danverbal menyimpulkan bahwa stimulus visual membuahkan hasil belajaryang lebih baik untuk tugas-tugas seperti mengingat, mengenali, mengingatkembali, dan menghubungkan fakta dengan kosep. Dilain pihak, stimulusverbal memberi hasil belajar yang lebih apabila pembelajaran itu melibatkan ingatan yang berturut-turut (sekuensial).
Salah satu gambar yang dijadikan acuan sebagai landasan teoripenggunaan media dalam proses belajar mengajar adalah Dale’s Cone ofExperience (kerucut pengalaman Dale). Kerucut ini (Gambar 2.2)merupakan elaborasi (pengerjaan dengan teliti) yang rinci dari konsep tigatingkatan pengalaman yang dikemukakan oleh Bruner sebagimana diuraikansebelumnya. Hasil belajar seseorang diperoleh mulai dari pengalamanlangsung (konkret), kenyataan yang ada dilingkungan kehidupan seseorangkemudian melalui benda tiruan, sampai kepada lambang verbal (abstrak).Semakin ke atas di puncak kerucut semakin abstrak media penyampaianpesan itu. Perlu dicatat bahwa urutan-urutan ini tidak berarti proses belajardan interaksi mengajar harus selalu dimulai dari pengalaman langsung,tetapi dimulai dengan jenis pengalaman yang paling sesuai dengankebutuhan dan kemampuan kelompok siswa yang dihadapi denganmempertimbangan situasi belajarnya.

























Gambar 2.1 Kerucut Pengalaman Edgar Dale
Dasar pengalaman kerucut di atas bukanlah tingkat kesulitan, melainkan tingkat keabstrakan-jumlah jenis indera yang turut serta selama penerimaan isi pengajaran atau pesan. Pengalaman langsung akan memberikan kesan paling utuh dan paling bermakna mengenai informasi dan gagasan yang terkandung dalam pengalaman itu, oleh karena ia melibatkan indera penglihatan, pendengaran, perasaan, penciuman, danperaba. Ini dikenal dengan learning by doing misalnya keikutsertaan dalam menyiapkan makanan, mebuat perabot rumah tangga, mengumpulkanperangko, melakukan percobaan di labolatorium, dan lain-lain. Semuanya memberikan dampak langsung terhadap pemerolehan danpertumbuhan pengetahuan, keterampilan, dan sikap.
Tujuan utama menggunakan media pembelajaran adalahmenambah kejelasan pengertian, memperlancar proses pembelajaran,mempermudah proses pencapaian tujuan pembelajaran. Sedangkan tujuansampingannya yaitu memotivasi dan membangkitkan minat, memusatkanperhatian, dan memungkinkan siswa untuk belajar secara individu maupun kelompok.

3.      Jenis-jenis Media Pembelajaran
Secara umum jenis media yang biasa digunakan dalam prosespembelajaran diantaranya adalah; media grafis, audio, dan multimedia.
a.    Media grafis; media grafis sering juga disebut sebagai media dua dimensiyaitu media yang mempunyai ukuran panjang dan lebar seperti gambar,foto, grafik, bagan atau diagram, poster, kartun, komik, dan lain-lain.
b.    Media audio; yaitu dikaitkan dengan indera pendengaran. Pengertianmedia audio dalam pembelajaran, adalah sebagai bahan yangmengandung pesan dalam bentuk auditif (pita suara) yang dapatmerangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa, sehinggaterjadi proses belajar-mengajar.
c.    Multi media; merupakan media pembelajaran yang dibantu proyeksiLCD, semisal file program computer multimedia.

4.      Fungsi dan Nilai Media Pembelajaran
Ada enam fungsi pokok dalam penggunaan alat peraga dalam prosesbelajar mengjar, yaitu:
a.       Penggunaan media/alat pembelajaran pada proses belajar mengajar bukanmerupakan fungsi tambahan tetapi mempunyai fungsi tersendiri sebagaialat bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif.
b.      Penggunaan alat peraga merupakan bagian yang integral dari keseluruhansituasi mengajar. Berarti bahwa alat peraga merupakan salah satu unsureyang harus dikembangkan guru.
c.       Alat peraga dalam pembelajaran penggunaannya integral dengan tujuandan isi pelajaran. Fungsi ini berarti bahwa penggunaan media harusmelihat pada tujuan dan bahan pelajaran.
d.      Penggunaan alat peraga dalam pembelajaran bukan semata-mata alathiburan, dalam arti digunakan tidak sekedar melengkapi proses belajarsupaya lebih menarik perhatian siswa.
e.       Penggunaan alat peraga dalam pembelajaran lebih diutamakan untukmempercepat proses belajar mengajar dan membantu siswa dalammenangkap pengertian yang diberikan guru.
f.       Penggunaan alat peraga dalam pengajaran diutamakan untukmempertingi mutu belajar-mengajar. Dengan kata lain denganpenggunaan media/alat peraga, hasil belajar yang akan dicapai akantahan lama didingat siswa, sehingga pelajaran mempunyai nilai tinggi.
Disamping enam fungsi media/alat peraga penggunaan alat peraga dalam proses pembelajaran mempunyai nilai-nilai sebagai berikut:
a.       Dengan peragaan dapat meletakkan dasar-dasar yang nyata untukberpikir, oleh karena itu, dapat mengurangi terjadinya verbalisme.
b.      Dengan peragaan dapat memperbesar minat dan perhatian siswa untuk belajar.
c.       Dengan peragaan dapat meletakkan dasar untuk perkembangan belajarsehingga hasil belajar bertambah mantap.
d.      Memberikan pengalaman yang nyata dan dapat menumbuhkan kegiatanberusaa sendiri pada setiap siswa.
e.       Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan berkesinambungan
f.       Membantu tumbuhnya pemikiran dan membantu berkembangnyakemampuan berbahasa.
g.       Memberikan pengalaman yang tak mudah diperoleh dengan cara lain
serta membantu berkembangnya efisiensi dan pengalaman belajar yang
lebih sempurna.

5.      Manfaat Media Pembelajaran
Dikutip dari Sudjana dan Rifai tentang manfaat media pembelajaran dalamproses belajar siswa yaitu:
a.       Pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapatmenumbuhkan motivasi belajar;
b.      Bahan pelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga akan lebih dipahamioleh siswa dan memungkinkanya menguasai dan mencapai tujuanpembelajaran;
c.       Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasiverbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosandan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi kalau guru mengajar pada setiapjam pelajaran;
d.      Siswa dapat lebih banyak kegiatan belajar sebab tidak hanyamendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati,melakukan, dan lain-lain.

6.      Kriteria Memilih Media Pembelajaran
Dalam memilih media untuk kepentingan pengajaran sebaiknyamemperhatikan kriteria-kriteria sebagai berikut:
a.       Ketepatannya dengan tujuan pengajaran.
b.      Dukungan terhadap isi bahan pelajaran.
c.       Kemudahan memperoleh media.
d.      Keterampilan guru dalam menggunakannya.
e.       Tersedia waktu untuk menggunakannya, sehingga media tersebut dapat bermanfaat bagi siswa selama pengajaran berlangsung.
f.       Sesuai dengan taraf berpikir siswa.
Menurut Imam Sutari Barnadib, media/alat pendidikan itu bisa berubah tergantung pada tujuan pendidikan yang akan dicapai. Lebih dari itu alat pendidikan juga tergantung pada siapa yang menggunakannya. Karena itu alat pendidikan menyangkut:
a.       Siapa yang menggunakannya;
b.      Untuk tujuan apa alat itu digunakan;
c.       Alat apa yang cocok yang tersedia;
d.      Kepada siapa alat itu diperuntukkan;
e.       Dalam situasi mana;
f.       Serasikah alat tersebut dengan lingkungan alam sekitar, kelamin, bakat, usia, dan tingkat perkembangan anak didik.



7.      Prinsip-prinsip Penggunaan Alat Peraga/Media
a.       Menentukan jenis alat peraga yang tepat; sesuai dengan tujuan dan bahanpelajaran;
b.      Menetapkan atau memperhitugkan subyek dengan tepat, artinya perlu diperhitungkan apakah penggunaan media sesuai dengan tingkat kematangan/ kemampuan anak didik;
c.       Menyajikan alat peraga dengan tepat, artinya kesesuaian dengan tujuan, bahan, metode, waktu, dan sarana yang ada;
d.      Menempatkan atau memperlihatkan alat peraga pada waktu, tempat, dan situasi yang tepat. Artinya kapan dan situasi mana pada waktu mengajar alat peraga digunakan.

8.      Surat Kabar sebagai Media Pembelajaran Bahasa Indonesia
Saat ini, jenis media pembelajaran kian beragam di pasaran. Parapendidik bisa mudah mendapatkannya di toko-toko buku maupunmembelinya melalui internet. Namun, semua fasilitas tersebut memerlukandana yang tidak sedikit, sehingga sekolah-sekolah yang kurang mampubelum bisa memanfaatkan media tersebut. Atas pertimbangan itulah, gurudituntut lebih kreatif untuk menciptakan dan menemukan mediapembelajaran murah.Misalnya siswa disuruh untuk mencari sebuah bacaan dalam koran dengan tema bebas kemudian siswa dituntut untuk membuat pertanyaan sekaligusjawaban untuk membaca memindai, memberi tangapan terhadap peristiwafaktual dalam koran, misalnya bencana alam, lingkungan, kesehatan, dansebagainya. Gambar-gambar peristiwa atau kartun-kartun lucu bisa mudahkita temukan di koran. Dari gambar tersebut kita bisa membuat gambar seri,dari gambar berseri kita dapat membuat dua macam versi media untukpembelajaran Bahasa Indonesia. Yang pertama adalah denganmemotongnya begitu saja dari koran dan menempelkannya pada kertas warna. Dari gambar berseri tersebut siswa dapat membuat cerita baik tulismaupun lisan. Selain itu guru juga dapat menggunakannya sebagai pancingan terhadap siswa untuk berbicara tentang isu-isu terkini. Misalnyatentang banjir, flu burung, kecelakaan alat transportasi dan sebagainya.
Yang kedua adalah dengan memotongnya secara terpisah-pisah sehinggamembentuk kartu. Aktivitas yang dapat dilakukan dengan media gambarkartu adalah siswa dapat belajar berpikir logis untuk mengurutkan cerita.Tentunya pengambilan gambar harus disesuaikan dengan tujuanpembelajaran. Dengan penggunaan media surat kabar kita dapat menghematbiaya untuk mencetak gambar-gambar sekaligus memanfaatkan barangbekas sebagai bagian dari kepedulian terhadap lingkungan.

9.      Definisi Media Surat Kabar
Surat kabar merupakan salah satu jenis media cetak yang berfungsiuntuk menyampaikan informasi, baik berupa berita, wacana, opini, fakta,konflik, gossip dan sebagainya, yang disajikan dalam bentuktulisan/cetakan. Menurut Setyosari dan Sihkabudin surat kabar adalah mediakomunikasi massa dalam bentuk cetakan yang tidak perlu diragukan lagiperanan dan pengaruhnya terhadap masyarakat pada umumnya. Sedangkanmenurut Kossach & Sulivan surat kabar merupakan sumber bahan bacaantambahan yang memungkinkan guru membawa komunitas bahasa ke dalam kelas.
Surat kabar disini berfungsi sebagai media pembelajaran, karena dijadikan sebagai alat yang digunakan untuk menyalurkan pesan danmerangsang terjadinya proses belajar pada siswa. Media surat kabar sengajadigunakan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, guna memberikanpemahaman terhadap materi yang diberikan oleh guru.



10.  Prinsip-prinsip Penggunaan Media Surat Kabar
Dalam pemilihan Media pembelajaran tidak boleh lepas dari prinsip-prinsipyang sudah ada. Adapun prinsip-prinsip penggunaan media suratkabar dalam pembelajaran Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:
a.       Dapat menyesuaikan tingkat kebutuhan peserta didik;
b.      Sangat mudah mendapatkannya;
c.       Tidak memerlukan biaya yang mahal;
d.      Sesuai dengan taraf berpikir siswa.
e.       Perpaduan teks dan gambar pada halaman cetak dapat menambah daya tarik, serta dapat memperlancar pemahaman informasi yang disajikandalam dua format, verbal dan visual.
Dari prinsip-prinsip diatas surat kabar sangat cocok digunakan sebagai media pembelajaran. Dari majalah atau koran bekas, kita bisa memperoleh gambar-gambar atau artikel yang bisa dipakai untuk belajar. Misalnya siswa disuruh untuk mencari sebuah bacaan dalam Koran dengan tema bebas kemudian siswa dituntut untuk membuat pertanyaan sekaligus jawaban untuk membaca memindai, memberi tangapan terhadap peristiwa faktual dalam koran, misalnya bencana alam, lingkungan, kesehatan, dan sebagainya. Gambar-gambar peristiwa atau kartun-kartun lucu bisa mudah kita temukan di koran. Dari gambar tersebut kita bisa membuat gambar seri.

11.  Tujuan Penggunaan Media Surat kabar dalam Proses BelajarMengajar
Adapun tujuan penggunaan media surat kabar dalam pembelajaranBahasa Indonesia adalah:
a.       Dapat digunakan untuk menyampaikan informasi yang bersifat fakta;
b.      Mengajarkan pengenalan kembali dan perbedaan stimulasi yang relevan;
c.       Menyajikan perbendaharaan kata;
d.      Menyajikan kosa-kata;
e.       Memberikan gambaran tentang lokasi, posisi, dan situasi pekerjaan yang akan dihadapi siswa nantinya.

12.  Batasan-batasan Penggunaan Media Surat kabar dalamPembelajaran Bahasa Indonesia
Batasan-batasan penggunaan media surat kabar dalam pembelajaranBahasa Indonesia, diantaranya:
a.       Adanya kesesuai dengan tujuan pembelajaran; karena media dan tujuan pembelajaran adalah integral
b.      Adanya dukungan terhadap materi ajar
c.       Disesuaikan dengan taraf berfikir siswa. Karena media yang baik untukpembelajaran bagi siswa haruslah: a) Informasi yang dapat dimengerti siswa, b) Sederhana dan lugas, tidak berbelit-belit c) Up to date sehinggatidak kehilangan daya tarik.

B.     Pembelajaran Bahasa Indonesia
1.      Pengertian Pembelajaran Bahasa Indonesia
Dari pengertian secara praktis ini dapatkita ketahui bahwa bahasa dalam hal ini mempunyai dua aspek, yaitu aspeksistem (lambang) bunyi dan aspek makna. Bahasa disebut sistem bunyi atausistem lambang bunyi karena bunyi-bunyi bahasa yang kita dengar atau kitaucapkan itu sebenarnya bersistem atau memiliki keteraturan.Dalam hal ini istilah sistem bunyi hanya terdapat di dalam bahasalisan, sedangkan didalam bahasa tulis bahasa sistem bunyi itu digambarkandengan lambang-lambang tertentu yang disebut huruf. Dengan demikianbahasa selain dapat disebut sistem bunyi, juga disebut sistem lambang.

2.      Teori Belajar Bahasa
a.       Behaviorisme
Aliran behaviorisme dalam bahasa disarikan dari pandangan kaum behavioris tentang conditioning. Mereka beranggapan bahwa kita bisamelatih hewan untuk melakukan apapun. Untu melakukan ini, kita harusmengikuti prosedur yang terdiri dari tiga tahap: stimulus, response, danreinforcement. Suatu perilaku akan muncul bila didahului oleh stimulus.Perilaku itu dapat diperkuat, dibiasakan, dengan memberi penguatan(reinforcement).Dalam pelaksanaan di kelas, metode yang juga dipengaruhi strukturalisme ini, menurut Moulton (1963), memiliki lima karakteristikkunci yang perlu dipertimbangkan jika hendak merancang programbahasa.
1.    Bahasa itu ujaran, bukan tulisan
2.    Bahasa itu seperangkat kebiasaan
3.    Ajarkanlah bahasa, bukan tentang bahasa
4.    Bahasa adalah, sebagaimana dikatakan oleh penutur asli, bukan seperti yang dipikirkan orang bagaimana mereka seharusnya berbicara.
5.    Bahasa itu berbeda.
b.      Koqnitivisme
Koqnitivisme biasa disebut mentalisme yang dipelopori LinguisNoam Chomsky. Dia menyerang pandangan kaum behavioris, dengan mengajukan pertanyaan berikut. Dalam hal ini Chomsky memperkenalkan konsep kompetensi dan peformansi. Kompetensi merujuk pada penguasaan siswa tentang aturanaturangramatikal. Kemampuan menggunakan aturan-aturan ini disebutperformansi.Pembelajaran bahasa menurut Chomsky tidak pernah menggunakan metodologi. Akan tetapi, gagasannya yang menggatakan bahwa bahasa bukanlah seperangkat kebiasaan-yang penting adalah pembelajaran menginternalisasikan aturan sehingga akan memungkinkan terjadinya performansi kreatif-telah banyak memberi gagasan bagi berbagai teknik dan metode pengajaran. Secara singkat, pandangan ini dapat disimpulkan: tunjukkan pada mereka aturan atau struktur yang mendasari dan kemudian biarkan mereka melakukan sendiri. Menciptakan sendiri kalimat-kalimat baru adalah tujuan pengajaran bahasa.
c.       Pemerolehan dan pembelajaran
Menurut Krashen yang dikutip oleh Aziz membuat perbedaanantara pemerolehan bahasa yang dilakukan secara tidak sadar, sepertihalnya yang terjadi pada pemerolehan bahasa pertama pada anak kecil.Pemerolehan bahasa yang dilakukan secara sadar, seperti halnya yangdilakukan orang dewasa mempelajari bahasa kedua pada latar formal.
d.      Pendekatan Humanis
Pendekatan humanistik menganggap siswa sebagai a wholeperson “orang sebagai suatu kesatuan” dengan kata lain, pengajaranbahasa tidak hanya mengajarkan bahasa, tetapi juga membantu siswamengembangkan diri mereka sebagai manusia. Keyakinan tersebut telahmengarahkan munculnya sejumlah teknik dan metodologi pengajaranyang menekankan aspek “humanistik” pengajaran. Dalam metodologisemacam itu, pengalaman siswa adalah yang terpenting dan perkembangan kepribadian mereka serta penumbuhan perasaan positif dianggap penting dalam pembelajaran bahasa mereka.



3.      Fungsi pembelajaran Bahasa Indonesia
Adapun fungsi pembelajaran Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:
a.    Untuk meningkatkan produktivitas pendidikan, dengan jalan mempercepat laju belajar dan membantu guru untuk menggunakan waktunya secara lebih baik, dan mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga dapat lebih banyak membina dan mengembangkan gairah belajar siswa.
b.    Memberikan kemungkinan pendidikan yang sifatnya lebih individual, dengan jalan mengurangi kontrol guru yang kaku dan tradisional, serta memberikan kesempatan bagi siswa untuk berkembang sesuai dengan kemampuannya.
c.    Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pengajaran, dengan jalanperencanaan program pendidikan yang lebih sistematis, sertapengembangan bahan pengajaran yang dilandasi pleh penelitian olehprilaku.
d.    Lebih memantapkan pengajaran, dengan jalan menongkatkankemampuan manusia denagan berbagai media komunikasi, sertapenyajian informasi dan data secara lebih konkrit.
e.    Memungkinkan belajar secara seketika, karena dapat mengurangi jurangpemisah antara pelajaran yang bersifat verbal dan abstrak dengan realitasyang sifatnya konkrit, serta memberikan pengetahuan yang sifatnyalangsung.
f.     Memungkinkan penyajian pendidikan yang lebih luas, terutama denganalat media massa.

4.      Tujuan Pembelajaran Bahasa Indonesia
Pembelajaran Bahasa Indonesia bertujuan agar peserta didik memilikikemampuan sebagai berikut:
a.    Berkomunikasi secara efektif dan efesien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis
b.    Menghargai dan bangga menggunakan bahasa indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara
c.    Memehami bahasa indonesia dan menggunakan dengan tepat dan kreatifuntuk berbagai tujuan
d.    Menggunakan bahasa indonesia untuk meningkatkan kemampuanintelektual, serta kematangan emosionaldan sosial
e.    Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan,memperluas budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dankemapuan berbahasa dan bersastra sebagai khasanah budaya danintelektual manusia Indonesia.

5.      Keterampilan Berbahasa
a.       Keterampilan Membaca
Membaca adalah aktivitas memahami, menafsirkan,mengingat, lalu yang terakhir adalah menuliskannya kembaliberdasarkan analisis pikiran kita sendiri.
b.      Ketrampilan Menyimak
Menurut Tarigan menyimak adalah suatu proses kegiatanmenyimak lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian,pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperolehinformasi, menangkap isi atau pesan serta memahami maknakomunikasi yang telah disampaikan oleh sang pembicara melaluiujaran atau bahasa lisan.
c.       Ketrampilan berbicara
Keterampilan berbicara adalah kemampuan mengungkapkanpendapat atau pikiran dan perasaan kepada seseorang atau kelompoksecara lisan, baik secara berhadapan ataupun dengan jarak jauh.

d.      Ketrampilan menulis
Menurut Sukristanto ketrampilan menulis memungkinkanseseorang mengkomunikasikan gagasan, penghayatan, dan pengalaman ke berbagai pihak terlepas dari ikatan waktu dan tempat.Dalam ketrampilan menulis baik sastra maupun nonsastra siswadiberi informasi, motivasi dan dibekali latihan menulis.

6.      KTSP dan Pembelajaran Bahasa Indonesia
KTSP atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah kurikulumoperasional yang disusun, dikembangkan, dan dilaksanakan oleh setiapsatuan pendidikan dengan memperhatikan standar kompetensi dankompetensi dasar yang dikembangkan Badan Standar Nasional Pendidikan(BSNP). Kurikulum ini juga dikenal dengan sebutan Kurikulum 2006karena kurikulum ini mulai diberlakukan secara berangsur-angsur padatahun ajaran 2006/2007. Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah harussudah menerapkan kurikulum ini paling lambat pada tahun ajaran 2009/2010.
KTSP merupakan penyempurnaan dari Kurikulum 2004 atau yangjuga dikenal dengan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Seperti KBK,KTSP berbasis kompetensi. KTSP memberikan kebebasan yang besar kepada sekolah untuk menyelenggarakan program pendidikan yang sesuai dengan (1) kondisi lingkungan sekolah, (2) kemampuan peserta didik, (3) sumber belajar yang tersedia, dan (4) kekhasan daerah. Dalam program pendidikan ini, orang tua dan masyarakat dapat terlibat secara aktif. Pengembangan dan penyusunan KTSP merupakan proses yang kompleks dan melibatkan banyak pihak: guru, kepala sekolah, guru (konselor), dan komite sekolah. Berikut ini akan dibahas beberapa hal yang dapat dilakukan guru dalam menghadapi KTSP. Karena KTSP dikembangkan dan disusun oleh satuan pendidikan atau sekolah sesuai dengan kondisinya masing-masing, setiap sekolah mempunyai kurikulum yang berbeda. Dengan demikian, bahan ajar yang digunakan juga mempunyai perbedaan.

7.      Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD/MI
Pada dasarnya pembelajaran Bahasa Indonesia baik di SD, SMP,SMA, atau perguruan tinggi adalah sama. Yaitu mencakup komponenkemampuan berbahasa dan kemampuan bersastra yang meliputi empataspek diantaranya: menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Tetapiuntuk tingkat MI/SD karena masih tingkat dasar maka keterampilanberbahasa yang harus dikuasai oleh siswa meliputi; berbicara; membaca; menulis dan mendengarkan bukan menyimak.
Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD/MI diarahkan untukmeningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalamBahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulisan,serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusiaIndonesia. Pada akhir pendidik di SD/MI, peserta didik telah membacasekurang-kurangnya sembilan buku sastra dan nonsastra.
a.       Materi Bahasa Indonesia di SD/MI
Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD/MI terdiri dari beberapa aspeksebagai berikut:
1)   Mendengarkan
2)   Berbicara
3)   Membaca
4)   Menulis
a)    Menyalin
b)   Mengarang
c)    Dikte

b.      Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Indonesia SD/ MI
Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia adalahprogram untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan berbahasa,dan sikap positif terhadap Bahasa Indonesia, serta menghargai manusiadan nilai-nilai kemanusiaan, meliputi:
1)   Mendengarkan
2)   Berbicara
3)   Membaca
4)   Menulis
c.       Ruang lingkup Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
Ruang lingkup standar kompetensi mata pelajaran Bahasa IndonesiaSD dan MI terdiri dari aspek:
1)      Mendengarkan; seperti mendengarkan berita, petunjuk, pengumuman, dll.
2)      Berbicara; seperti mengungkapkan gagasan dan perasaan; menyampaikan sambutan, dialog, pesan, pengalaman, dll.
3)      Membaca; seperti membaca huruf, suku kata, kata, kalimat, pragraf,berbagai teks bacaan, denah, petunjuk, tata tertib, pengumuman,kamus, dll.
4)      Menulis; seperti menulis karangan naratif dan nonnaratif dengan
tulisan rapi dan jelas dengan memperhatikan tujuan dan ragam
pembaca, pemakaian ejaan dan tanda baca, dll.

C.     Penerapan Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan Menggunakan MediaSurat Kabar
1.      Penerapan alat peraga/media dalam pembelajaran
Menurut Sudjana penerapan alat peraga dalam pembelajaran harus disesuaikan dengan prinsip penggunaan alat peraga, langkah-langkahmenggunakan alat peraga dalam kelas, guru dan keperagaan, prosedurbelajar dan hubungannya dengan keperagaan.
a.       Prinsip-prinsip penggunaan alat peraga
§  Menentukan jenis alat peraga yang tepat; sesuai dengan tujuan danbahan pelajaran;
§  Menetapkan atau memperhitungkan subyek dengan tepat, artinyaperlu diperhitungkan apakah penggunaan media sesuai dengantingkat kematangan/ kemampuan anak didik;
§  Menyajikan alat peraga dengan tepat, artinya kesesuaian dengantujuan, bahan, metode, waktu, dan sarana yang ada;
§  Menempatkan atau memperlihatkan alat peraga pada waktu,tempat, dan situasi yang tepat. Artinya kapan dan situasi mana padawaktu mengajar alat peraga digunakan.
b.      Langkah yang harus ditempuh pada waktu menggunakan alat peraga
Menetapkan tujuan mengajar dengan menggunakan alat peraga.
§  Pada langkah ini hendaknya guru merumuskan tujuan yang hendakdicapai;
§  Persiapan guru. Pada fase ini guru memilih dan menetapkan alatperaga mana yang akan dipergunakan sekiranya tepat untukmencapai tujuan;
§  Persiapan kelas. Siswa atau kelas harus mempunyai persiapan,sebelum mereka menerima pelajaran dengan menggunakanmedia/alat peraga;
§  Langkah penyajian pelajaran dan peragaan. Penyajian pelajarandengan menggunakan media/alat peraga merupakan suatu keahlianguru yang bersangkutan. Dalam langkah ini perhatikan bahwatujuan utama ialah pencapaian tujuan mengajar dengan baik,sedangkan alat peraga hanya sekedar alat pembantu. Jangan sampaialat peraga menjadi tujuan dan tujuan menjadi alat;
§  Langkah kegiatan belajar. Pada langkah ini siswa hendaknyamengadakan kegiatan belajar sehubungan dengan penggunaan alatperaga. Kegiatan ini mungkin dilakukan di dalam kelas atau di luarkelas;
§  Langkah evaluasi pelajaran dan keperagaan.
c.       Guru dan keperagaan
§  Setiap guru hendaknya memilih landasan teoritis mengenai alat-alat peraga/media dalam penajaran;
§  Setiap guru perlu memiliki pengetahuan mengenai proses belajarmengajar, sebab penggunaan alat peraga harus terpadu dalam proses tersebut;
§  Setiap guru perlu memahami kegiatan belajar yang dilakukansiswa, sebab media pengajaran berusaha membantu kegitan belajarsiswa;
§  Setiap guru perlu memahami perkembangan anak, sebabpenggunaan alat peraga seirama dengan tingkat kematangan dankemampuan anak didik;
§  Setiap guru harus terampil dalam hal penggunaan alat peraga/media pembelajaran;
§  Setiap guru berkewajiban melengkapi alat peraga di dalamkelasnya, sehingga ia dituntut agar dapat membuat alat peraga yangsederhana untuk keperluan mengajar.
d.      Hubungan belajar dengan alat peraga/media pembelajaran
Pada hakikatnya belajar adalah suatu proses perubahan pada diriseseorang. Perubahan ini disebabkan adanya suatu pengalaman.Pengalaman manusia dibagi menjadi dua jenis, yakni: pengalamanlangsung dan pengalaman tidak langsung. Dalam pengalamanlangsung anak mengalami dan berbuat sendiri secara langsung,misalnya belajar menjahit, menari dan lain-lain. Anak melakukansendiri perbuatan tersebut dalam situasi sebenarnya. Pengalamandemikian tentu akan membawa hasil yang lebih baik. Masalahnyatidak semua persolan dapat dipelajari manusia secara langsung, adajuga yang melalui penglaman tidak langsung. Pengalaman tidaklangsung tersebut dapat diperoleh melalui:
a)      Mengamati gejala atau situasi dengan menggunakan alat indra.
b)      Misalnya: mengamati orang menjahit, menonton orang menari danlan-lain;
c)      Melalui bentuk gambar, misalnya mempelajari lukisan, foto, danlain-lain;
d)      Melalui bentuk grafik, misalnya mempelajri peta, grafik, diagramdan lain-lain;
e)      Melalui bentuk verbal yaitu diperoleh dengan cara membaca uraiantertulis dan lain-lain;
f)       Melalui lambang, seperti rumus, istilah dan lain-lain.

2.      Jenis media pembelajaran Bahasa
a.       Media perangkat/peralatan, meliputi:
1)      Perangkat dengar seperti radio, tape recorder, dan labolatoriumsederhana
2)      Perangkat pandang seperti alat untuk menampilkan gambar, alat peraga, dll.
3)      Perangkat dengar-pandang seperti televisi, video, LCD dan lainlain.
b.      Media materi pembelajaran, meliputi:
1)      Media materi cetak seperti buku-buku, gambar, peta, kartu dansymbol.
2)      Media materi pandang-dengar tidak bergerak, seperti film yangtidak bergerak.
3)      Media materi pandang-dengar bergerak, seperti film-film, kasetkasetvideo, dan VCD.
4)      Kegiatan penunjang pembelajaran, meliputi: kegiatan karyawisata,pameran, perlombaan dan sebagainya.

3.      Manfaat penggunaan media surat kabar dalam pembelajaran BahasaIndonesia
Menurut Budianta, objek bacaan berupa artikel, teks bacaan yangterdapat dalam media massa (surat kabar) menekankan pada hal-hal yangbersifat teknis, seperti fakta, sumber primer, bukti dan contoh. Dengandemikian siswa dapat mengembangkan keterampilan membaca melaluisurat kabar dan majalah yakni siswa dapat mempelajari bahan bacaandengan peristiwa yang aktual untuk membaca pemahaman, membacacepat, dan membaca memindai. Dengan latihan membaca, maka siswamampu menyerap informasi dengan cepat dan baik, sehingga minat bacadapat terwujud.Menurut Pritamtiyastirin, mengatakan bahwa keterampilanmenyimak memberi kontribusi yang besar dalam menerapkan aspekaspekedukatif dan kultural. Maka dalam pembelajaran menyimakdiperlukan media yang sesuai yaitu: media audio, visual, ataupun mediaaudiovisual. Untuk pembelajaran Bahasa Indonesia pelajaranketerampilan menyimak, guru dapat memanfaatkan teks informasi dari koran yang dibacakan di depan kelas.

4.      Kelebihan dan kelemahan media cetak
a.       Kelebihan media cetak
1)      Siswa dapat belajar dan maju sesuai dengan kecepatan masing-masing.
2)      Disamping dapat mengulangi materi dalam media cetakan,siswa akan mengikuti urutan pikiran secara logis.
3)      Perpaduan teks dan gambar dalam halaman cetak sudahmerupakan hal lumrah, dan ini dapat menambah daya tarik, sertadapat memperlancar pemahaman informasi yang disajikandalam dua format, verbal dan visual.
4)      Meskipun isi informasi media cetak harus diperbaharui dandirevisi sesuai dengan temuan-temuan baru, tetapi materitersebut dapat direproduksi dengan ekonomis dandidistribusikan dengan mudah.
b.      Kelemahan media cetak
1)      Sulit menampilkan gerak dalam halaman media cetak
2)      Biaya pencetakan akan mahal apabila ingin menampilkanilustrasi, gambar, atau foto yang berwarna-warni
3)      Umumnya media cetakan dapat membawa hasil yang baik jikapelajaran itu bersifat kognitif, misalnya belajar tentang fakta danketerampilan.
4)      Jika tidak dirawat dengan baik, media cetak akan cepat rusakdan hilang.

5.      Penerapan media surat kabar dalam pembelajaran Bahasa Indonesiapada siswa Kelas V
Peserta didik saat ini sangat menuntut guru untuk mengajar lebihkreatif dan tidak membosankan, mengembirakan dan membisakan.Karena itu guru sangat memerlukan metode dan teknik-teknik baru dalammengajar. Termasuk, mencari media pembelajaran sebagai bagian darialat bantu mengajar yang sangat diperlukan. Penerapan pembelajaranBahasa Indonesia dengan menggunakan media surat kabar berarti;pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menggunakan surat kabarsebagai media atau alat bantu mengajar yang digunakan oleh guru untukmendukung tercapainya tujuan pembelajaran. Seperti yang dikatakanSudjana bahwa dalam proses belajar mengajar media/alat peragadipergunakan dengan tujuan membantu guru agar proses belajar siswalebih efektif dan efisien.Melalui penggunaan surat kabar tersebut diharapkan dapat menumbuhkan dan memberikan pemahamanpembelajaran Bahasa Indonesia dengan hasil yang maksimal pada siswakelas V MI Mambaul Ulum kasri Bululawang.
Dikarenakan penggunaan media pembelajaran harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran dan prinsip-prinsip penggunaannya, makadalam penerapannya media surat kabar akan cocok/relevan jikadigunakan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia atas beberapa prinsip,yaitu:

a)        Dapat menyesuaikan tingkat kebutuhan peserta didik,
b)        Sangat mudah mendapatkannya,
c)        Tidak memerlukan biaya yang mahal, dan
d)        Sesuai dengan taraf berpikir siswa.

D.     Penilaian proses dan hasil dari penggunaan media surat kabar dalam pembelajaran Bahasa Indonesia
Penilaian atau evaluasi pada dasarnya adalah memberikan pertimbanganatau harga atau nilai berdasarkan kriteria tertentu. Proses belajar danmengajar adalah proses yang bertujuan. Tujuan tersebut dinyatakan dalamrumusan tingkah laku yang diharapkan dimiliki siswa setelah menyelesaikanpengalaman belajarnya. Hasil yang diperoleh dari penilaian dinyatakan dalambentuk hasil belajar. Oleh sebab itu, tindakan atau kegiatan tersebutdinamakan penilaian hasil belajar.
1.    Fungsi penilaian dalam proses belajar mengajar
a.       Untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan pengajaran, dalam hal iniadalah tujuan instruksional khusus. Dengan fungsi ini dapat diketahuitingkat penguasaan bahan pelajaran yang seharusnya dikuasai olehpara siswa. dengan perkataan lain dapat diketahui hasil belajar yangdicapai siswa.
b.      Untuk mengetahui keefektifan proses belajar mengajar yang telahdilakukan guru.
2.    Sasaran atau obyek penilaian
a.       Segi tingkah laku, artinya segi yang menyangkut sikap, minat,perhatian, keterampilan siswa sebagai akibat dari proses belajarmengajar.
b.      Segi isi pendidikan, artinya penguasaan bahan pelajaran yangdiberikan guru dalam proses belajar mengajar.
c.       Segi yang menyangkut proses belajar mengajar itu sendiri. Prosesbelajar mengajar perlu diadakan penilaian secara obyektif dari guru,sebab baik tidaknya proses belajar-mengajar akan menentukan baiktidaknya hasil belajar yang dicapai siswa.
3.    Jenis alat penialaian
Setelah sasaran penilaian ditetapkan maka langkah kedua bagi guruialah menetapkan alat penilaian yang paling tepat untuk menilai sasarantersebut. Pada umumnya alat evaluasi dibedakan menjadi dua jenis, yakni:
a.       Tes, artinya tes tersebut telah mengalamiproses validasi (ketepatan) dan realiitasi (ketepatan) untuk suatu tujuan tertentu dan untuk sekelompok siswa tertentu. Semisal, penyusunan THB(tes hasil belajar) merupakan usaha penyusunan tes yang sudahdistandarisasi. Tes ini terdiri dari tiga bentuk yakni: tes lisan, tes tulisan, dan tes tindakan. Jenis tes tersebut biasanya digunakan untuk menilai isi pendidikan, misalnya aspek pengetahuan, kecakapan, keterampilan, dan pemahaman pelajaran yang telah diberikan guru.
b.      Non tessesuai untuk penilaian tingkah laku, jenis non tes sesuaidigunakan sebagai alat evaluasi. Seperti menilai aspek sikap, minat, perhatian, karakteristik, dan lain-lain yang sejenis.Alat evalusi jenis non-tes ini antara lain ialah:
1)      Observasi, yakni pengamatan kepada tingkah laku pada suatu situasi tertentu.
2)      Wawancara, komunikasi langsung antara yang mewawancarai denganyang diwawancarai. Untuk memudahkan pelaksanaannya perludisediakan pedoman wawancara berupa pokok-pokok yang akanditanyakan
3)      Studi kasus, mempelajari individu dalam periode tertentu secara terusmenerusuntuk melihat perkembangannya.
4)      Rating scale (skala penilaian), salah satu alat penilaian yangmenggunakan skala yang telah disusun dari ujung yang neatif sampaikepada ujung yang positif, sehingga pada skala tersebut penelititinggal membubuhi tanda cek saja (√).










Tabel 2.2 Contoh Rating Scale

5)      Check list, hampir menyerupai rating scale, hanya pada check listtidak perlu disusun kriteria atau skala dari yang negativ sampai padayang positif. Cukup dengan kemungkinan-kemungkinan jawaban yangakan kita minta dari yang dievaluasi.
6)      Inventory, daftar pertanyaan yang disertai alternativ jawaban diantarasetuju, kurang setuju atau tidak setuju.
Untuk penilaian proses dan hasil dari penggunaan media suratkabar dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, guru menggunakan jenis tesdan non tes. Penilaian tes (tes tulis, lisan, dan tindakan) yang di buat olehguru untuk mengukur keberhasilan siswa dengan memberikan beberapapertanyaan sebagai uji kompetensi guna mengetahui sejauh manapengetahuan, kecakapan, keterampilan, dan pemahaman siswa terhadappelajaran setelah dilakukan tindakan pembelajaran dengan menggunakanmedia surat kabar. Untuk penilaian non tes dilakukan denganobservasi/pengamatan, wawancara, dan rating scale (skala penilaian)selama proses belajar mengajar berangsung untuk mengetahui sikap,minat, perhatian, karakteristik, keantusiasan dan sebagainya.



BAB III
METODE PENELITIAN
A.     Pendekatan dan Jenis Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitan ini adalah pendekatankualitatif. Pemilihan pendekatan ini karena jenis penelitiannya adalahpenelitian tindakan kelas (PTK). Menurut Ratna dalam Arikunto, Pendekatankualitatif dalam penelitian ini digunakan dengan beberapa pertimbangansebagai berikut: (1) kejelasan unsur yaitu subyek sampel, subyekpenelitiannya adalah siswa kelas V MI Mambaul Ulum Kasri Bululawang.Dan untuk sumber data bersifat fleksibel. Karena hasil pengamatan, danuntuk pengamatan berikutnya tidak selalu sama dengan pengamatan keduakalinya, (2) langkah penelitian, baru diketahui dengan mantap dan jelassetelah penelitian selesai, (3) desain penelitian adalah fleksibel denganlangkah dan hasil yang tidak dapat di pastikan sebelumnya, (5) pengumpulandata dilakukan sendiri oleh peneliti, karena peneliti sebagai Human Instrumenyang mengumpulkan data dari metode wawancara, angket, observasi kegiatanpembelajaran di kelas, dan (6) analisis data dilakukan bersama dengan pengumpulan data.
Dengan menggabungkan batasan pengertian tiga kata inti, yaitu (1) penelitian, (2) tindakan dan (3) kelas, segera dapat disimpulkan bahwapenelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatanbelajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama.
Dalam melaksanakan PTK harus mengacu pada desain penelitian yangtelah dirancang sesuai dengan prosedur penelitian yang berlaku. Fungsinyasebagai patokan untuk mengtahui bentuk penerapan pembelajaran BahasaIndonesia dengan menggunakan media surat kabar pada siswa kelas V MIMambaul Ulum Kasri Bululawang.Dalam PTK urutan metode adalah sama dengan urutan langkah-langkahdalam siklus penelitian, yakni: (1) perencanaan, (2) implementasi, (3)observasi, dan (4) refleksi.

B.     Prosedur Penelitian
1.      Identifikasi masalah
Langkah awal, peneliti terlebih dahulu datang ke lokasi penelitianuntuk meninjau lokasi, sekaligus menemui Kepala Madrasah IbtidaiyahMambaul Ulum Kasri Bululawang untuk minta izin melakukan penelitian diMadrasah yang dipimpinnya. Setelah mendapat izin peneliti langsung diajakmenemui guru Bidang Studi Bahasa Indonesia untuk melakukan koordinasiawal sambil menanyakan tentang situasi, karakteristik kelas, serta strategipembelajaran Bahasa Indonesia yang selama ini diterapkan.
2.      Memeriksa lapangan
Setelah peneliti mengetahui model pembelajaran yang diterapakanselama ini, maka peneliti mengadakan pemeriksaan lapangan denganmelaksanakan pembelajaran dengan metode tradisional yang biasadilakukan, dengan maksud ingin mengetahui situasi pembelajaran. Untukmengetahui hasil dari pemeriksaan lapangan, maka peneliti mengadakan pre-test yang akan dijelaskan pada bab IV.
3.      Perencanaan (planning)
Perencanaan adalah kegiatan perancangan untuk pemecahan masalah. Tahap ini berupa menyusun rancangan tindakan yang menjelaskan tentangapa, mengapa, kapan, di mana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan tersebut akan dilakukan. Perencanaan dalam penelitian ini dibuat berdasarkan atasdasar: (1) hasil nilai pre-tes Bahasa Indonesia kelas V banyak yang adadibawah KKM, hal ini terkait dengan motivasi belajar Bahasa Indonesiarendah, karena belajar bahasa itu membosankan, sebab selama gurumengajar hanya begitu-begitu saja tidak ada perubahan yakni denganceramah dan latihan yang dirasa kurang mengena; (2) dengan menerapkanmedia surat kabar disertai dengan metode-metode pembelajaran dapatmemberikan pengalaman lebih konkrit, memotivasi serta mempertinggi daya serap dan daya ingat siswa serta mampu memberikan pengalaman baru yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas belajar Bahasa Indonesia.
Dalam tahap perencanaan peneliti menyusun rencana pelaksanaanpembelajaran (RPP) dengan kompetensi dasar keterampilan membaca;menemukan informasi secara cepat dari berbagai teks khusus yangdilakukan melalui membaca memindai. Dan keterampilan berbicara;mengomentari persoalan faktual disertai alasan yang mendukung denganmemperhatikan pilihan kata dan santun berbahasa. RPP dibuat untuk duakali siklus penelitian selama enam kali pertemuan; dengan rincian sikluspertama dua kali pertemuan dan siklus ke dua tiga kali pertemuan. Dua kalipertemuan 70 menit dan tiga kali pertemuan 105 menit.Adapun beberapa tahap perencanaan perbaikan sebagai berikut:
a.     Mempersiapkan dan merancang media pembelajaran
b.    Mempersiapkan perangkat pembelajaran, seperti:
1)   Membuat silabus pembelajaran
2)   Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran
3)   Membuat modul pembelajaran
4)   Membuat rancangan penilaian, dan lain-lain.
c.     Mempersiapkan lembar observasi
Kriteria untuk menentukan bahwa pembelajaran dengan penggunaan media surat kabar telah berhasil memecahkan masalah yangsedang diupayakan pemecahannya dilakukan secara kualitas maupunkuantitas. Secara kualitas dapat dilihat dari aktivitas siswa selama proses pembelajaran seperti tingkat motivasi, keceriaan, keantusiasan dalammengikuti pelajaran, hal ini dapat dilihat dari pengamatan ataupun denganmelakukan wawancara dengan para siswa yang dipilih sampelnyaberdasarkan pertimbangan tertentu.
Sedangkan secara kuantitatif dilakukan dengan cara melakukan tes.Keberhasilan individual ditetapkan jika siswa mengalami ketuntasanbelajar di atas KKM. Skor minimal batas kelulusan atau kriteria ketuntasanminimum (KKM) di Madrasah Ibtidaiyah Mambaul Ulum Mata Pelajaran Bahasa Indonesia adalah.
4.      Implementasi (Acting)
Implementasi merupakan pelaksanaan dari rencana yang telahdibuat, terlampir. Dalam hal ini guru bertindak sebagai peneliti, sebagaipelaksana kegiatan pembelajaran sekaligus pengamat. Menurut Latifdalam Wahidmurni, Nur Ali, dalam tahap implementasi kemungkinanmodifikasi tindakan (mengubah rancangan) masih beoleh dilakukanasalkan masih sesuai dengan strategi yang digunakan. Kegiatan tindakanyang akan dilakukan pada tahap ini adalah melakukan tindakanpembelajaran sesuai dengan rencana yang telah disusun dalam rencanapelaksanaan pembelajaran (RPP).

5.      Pengamatan(Observing)
Pengamatan dilakukan ketika proses pembelajaran terjadibersamaan waktunya dengan implementasi tindakan. Pada tahap ini,peneliti melakukan pengamatan dan mencatat semua hal yang diperlukandan terjadi selama pelaksanaan tindakan belangsung. Pengumpulan dataini dilakukan dengan menggunakan format observasi/penilaian yang telahdisusun, termasuk juga pengamatan secara cermat pelaksanaan skenariotindakan dari waktu ke waktu serta dampaknya terhadap proses dan hasilbelajar siswa. Data yang dikumpulkan dapat berupa data kuantitatif (hasiltes, kuis, presentasi, nilai tugas, dll.) atau data kualitatif yangmenggambarkan keaktifan siswa, antusias siswa, mutu diskusi, dan lain-lain.
Instrument yang umum diapakai adalah a. Soal tes, kuis, b. Lembar observasi, dan c. Catatan lapangan yang dipakai untuk memperoleh data secara obyektif yang tidak dapat terekam melalui lembar observasi, seperti aktivitas siswa selama pemberian tindakan berlangsung, reaksi mereka, atau petunjuk-petunjuk lain yang dapat dipakai sebagai bahan dalam analisis dan untuk keperluan refleksi.
Pengamatan yang dilakukan meliputi: penggunaan media suratkabar, pemberian tugas, presentasi, keberanian siswa untuk tampil didepan kelas, dan tingkat keantusiasan serta tanggapan siswa terhadappenerapan media surat kabar.

6.      Refleksi(Reflecting)
Refleksi dalam PTK mencakup analisis, sintesis, dan penilaianterhadap hasil pengamatan atas tindakan yang telah dilakukan.Padatahap ini kegiatan difokuskan pada upaya untuk menganalisis, mensintesis,memaknai, menjelaskan dan menyimpulkan.110 Oleh karena kegiatanpenelitian dilakukan secara mandiri maka kegiatan analisis dan refleksimenjadi tanggung jawab peneliti. Namun demikian, dalam pelaksanaankegiatan analisis dan refleksi ini peneliti akan mendiskusikannya dengansiswa yang diambil secara acak atas pelaksanaan pembelajaran yang telahdilakukan berdasarkan hasil pengamatan dan perasaan mereka.Dalam hal ini kegiatan yang dilakukan adalah:
1)   Menganalisis hasil pekerjaan siswa
2)   Menganalisis hasil wawancara siswa
3)   Menganalisis lembar observasi siswa
Berdasarkan hasil analisis tersebut peneliti melakukan refleksiyang akan digunakan sebagai bahan pertimbangan apakah kriteria yangditetapkan tercapai atau belum. Jika telah berhasil maka siklus boleh berhenti, tetapi jika belum maka peneliti harus mengulang siklus lagi danseterusnya sampai sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.Empat Alur PTK tersebut dapat dilihat pada gambar 3.1 di bawah ini:




























Gambar 3.1 Alur Penelitian Tindakan Kelas
7.      Revisi perencanaan
Revisi dilakukan dengan melihat refleksi sebelumnya, untuk merevisiatau meninjau kembali rencana yang akan diterapkan pada siklusselanjutnya. Revisi perencanaan bertujuan untuk mengantisipasi danmengecek rencana yang telah dibuat.

C.     Kehadiran Peneliti
Dalam penelitian ini peneliti bertindak sebagai instrument sekaliguspengumpul data. Instrumen selain manusia (seperti: angket, pedomanwawancara, pedoman observasi dan sebagainya) dapat pula digunakan. Tetapifungsinya terbatas sebagai pendukung tugas peneliti sebagai instrumen. Olehkarena itu, kehadiran peneliti adalah mutlak, lebih-lebih dalam penelitianyang mandiri. Selain sebagai pelaku tindakan (berarti juga sumber data)peneliti juga bertugas sebagai pengamat aktivitas siswa dalam proses belajarmengajar.

D.     Lokasi penelitian
Lokasi penelitian bertempat di MI Mambaul Ulum yang terletak di DesaKasri Kecamatan Bululawang Kabupaten Malang. Terletak 6 kilometer daripusat kecamatan gambar 3.2. Madrasah ini merupakan lembaga maarifdibawah naungan Nahdlatul Ulama yang mulai berkembang meskipun masihtertinggal jauh bila dibandingkan dengan sekolah-sekolah yang ada di wilayah kota madya, letak dan kondisi masyarakat yang masih kental dengantradisi wong ndeso dan fanatik agama yang lebih mengarahkan anak-anaknyauntuk sekolah di madrasah membuat MI Mambaul Ulum banyak diminatisebagian besar masyarakat di sana.
Sebagai madrasah yang terletak di pedesaan MI Mambaul Ulummempunyai siswa yang cukup banyak tiap-tiap kelasnya rata-rata berjumlah30 anak. Kurangnya tenaga edukatif menyebabkan pembelajaran dirasakurang efektif karena gurunya kurang kreatif dan inovatif dalam menyajikanpelajaran. Oleh karena itu, peneliti ingin menerapkan pembelajaran yanglebih bermakna yaitu dengan penggunaan surat kabar sebagai mediapembelajaran khususnya Bahasa Indonesia pada siswa kelas V di MIMambaul Ulum Kasri Bululawang dengan harapan kualitas proses dan hasilpembelajaran dapat ditingkatkan.
















(Gambar 3.2) Peta Lokasi Penelitian



E.     Sumber Data dan Jenis Data
Rancangan penelitian yang diterapkan dalam penelitian ini merupakanrancangan PTK dengan melibatkan data kualitatif dan data kuantitatif.Menurut Lofland dan Lofland, sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata, dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif(data berbentuk kalimat, kata atau gambar) dan data kuantitatif (data yangberbentuk angka). Data kualitatif berupa deskripsi atas suasana kelas padasaat pembelajaran sedang berlangsung, keceriaan atau keantusiasan,kerjasama kelompok pada saat pembelajaran, dan tanggapan siswa terhadappenggunaan media dalam pembelajaran; data kuantitatif berupa hasil skor tes,skor tugas kelompok, dan skor tes kelompok.
Sedangkan sumber data penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V MI Mambaul Ulum Kasri Bululawang semester genap tahun ajaran 2008/2009yang berjumlah 31 siswa, khususnya data tentang tanggapan mereka terhadapproses pembelajaran yang telah dilaksanakan dan data tentang hasil tes.

F.      Instrument Penelitian
Dalam pelaksanaan pengumpulan data diperlukan instrumentpengumpulan data yang tepat. Dalam penelitian kualitatif kedudukan peneliticukup rumit. Peneliti sekaligus merupakan perencana, pelaksana pengumpulandata, analisis, penafsir data, dan akhirnya menjadi pelopor hasil penelitian. Secara terperinci instrument penelitian yang digunakan dalam penelitianini adalah:
1.    Pedoman pengamatan untuk menggali data tentang suasana kelas pada saatpembelajaran sedang berlangsung, keceriaan atau keantusiasan siswa dalammengikuti pembelajaran, dan kerja sama kelompok.
2.    Pedoman wawancara untuk menggali data tentang tanggapan siswa terhadappenerapan media pembelajaran yang dilaksanakan (khusus kelompktertentu), untuk memperoleh informasi secara mendalam.
3.    Tes digunakan untuk menggali data kuantitatif berupa hasil skor tes, skortugas kelompok, dan skor tes kelompok.

G.    Prosedur Pengumpulan Data
1.      Observasi, merupakan suatu cara untuk mengumpulkan datapenelitian. Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secarasistematis terhadap gejala yang tampak pada obek penelitian.Observasi dilakukan pada saat proses belajar mengajar denganmenggunakan pedoman observasi kegiatan pembelajaran, catatan lapangan,dan foto, dengan tujuan memperoleh data tentang proses penggunaan suratkabar sebagai media pembelajaran. Instrument observasi, catatan lapangan,dan foto digunakan untuk membandingkan dan mencocokan dengan data wawancara.
2.      Wawancara, adalah alat untuk mengumpulkan informasi dengan caramengajukan pertanyaan secara lisan untuk dijawab secara lisan juga. Wawancara dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan instrumentpedoman wawancara yang berisi kerangka/garis besar pokok pertanyaanuntuk memperoleh data utama. Data wawancara sebagai pembanding danpenguat dari data observasi dan kuesioner.
3.      Dokumentasi, adalah cara mengumpulkan data melalui peninggalantertulis, seperti arsip-arsip dan termasuk juga buku-buku tentang pendapat,teori, dalil atau hukum-hukum, dan lain-lain yang berhubungan dengan masalah penelitian.
4.      Pengukuran Tes Hasil Belajar dilakukan dengan tujuan untuk mengetahuipeningkatan prestasi belajar peserta didik. Tes yang dimaksud meliputi tesawal yaitu tes yang diberikan sebelum adanya tindakan, dan tes akhir yangdilakukan pada setiap akhir tindakan, hasil tes ini akan digunakan untukmengetahui tingkat prestasi belajar peserta didik pada mata pelajaranBahasa Indonesia dengan menggunakan media surat kabar.
BAB IV
PAPARAN DATA DAN HASIL PENELITIAN
A.     Deskripsi Lokasi Penelitian
1.      Sejarah singkat berdirinya MI Mambaul Ulum
Madrasah Ibtidaiyah Mambaul Ulum didirikan pada tanggal 1 Januari1957 yang bertempat di desa Kedok Kasri Kecamatan Bululawang atas partisipasi masyarakat sekitar. Adapun berdirinya Madrasah Ibtidaiyah inidiprakarsai oleh para tokoh masyarakat. Tujuan didirikannya Madrasah inidisamping untuk memenuhi tuntutan masyarakat yang menginginkansekolah Islam juga untuk memberikan pendidikan dasar secara formal danmemberikan kesempatan kepada masyarakat rendah untuk mengenyampendidikan walau hanya tingkat dasar. Harapan para pendiri setidaknyadengan adanya Madrasah Ibtidaiyah ini masyarakat mulai menyadari akan pentingnya pendidikan.
2.      Identitas Sekolah
a)      Nama Sekolah : MI MAMBAUL ULUM
b)      NSM : 112350713137
c)      Propinsi : JAWA TIMUR
d)      Otonomi : KAB. MALANG
e)      Kecamatan : BULULAWANG
f)       Desa/ Kelurahan : KASRI
g)      Jalan dan Nomor : MASJID KEDOK KASRI
h)      Kode Pos : 65171
i)        No Telp : Kode Wilayah: 0341
j)        Nomor : 7319517 / 823489
k)      Daerah : PEDESAAN
l)        Setatus Sekolah : SWASTA
m)    Kelompok Sekolah : INTI
n)      Akreditasi : B
o)      Surat Keputusan/ SK : B/KW.13.4/MI/2599/2005
p)      Penerbit SK di tanda tangani : KA.KANDEPAGKab.MALANG
q)      Th Berdiri : 1957
r)       KBM.(Kegiatan belajar Mengajar) : Pagi
s)       Bagunan Sekolah : Milik Sendiri
t)        Luas Bagunan : 350 m²
u)      Jarak Kepusat Kecamatan : 6 Km
v)      Jarak Kepusat Otoda : 17 Km
w)    Terletak pada lintasan : Pedesaan
x)      Jumlah Keanggotaan Rayon : 19
y)      Organisasi Penyelenggara : LP. Ma’arif
3.      Visi, Misi dan Tujuan MI Mambaul Ulum
a.       Visi MI. Mambaul Ulum
Unggul dalam prestasi, kompetitif dalam bersaing, dan islami dalambertindak.
Indikator unggul prestasi:
1)      Unggul prestasi akademis
2)      Unggul prestasi non akademik
Indikator kompetitif dalam bersaing:
1)      Kompetitif dalam penerimaan lulusan ke sekolah lanjutan negeri atausekolah favorit.
2)      Kompetitif dalam prestasi olahraga dan seni.
3)      Kompetitif dalam prestasi kegiatan ekstrakurikuler.
Indikator islami dalam bertindak:
1)      Tertib dalam menjalankan ibadah
2)      Berakhlak mulia.
b.      Misi MI. Mambaul Ulum
1)      Memberdayakan segala potensi (fisik dan SDM) secara kolaboratifdan sinergis guna menunjang pencapaian visi Madrasah.
2)      Menerapkan pembelajaran secara efektif dan efisien melalui strategimulti metode dengan didukung media pembelajaran.
3)      Menumbuh kembangkan semangat pengalaman semangat nilai-nilaiajaran islam.
4)      Meningkatkan kualitas akademik guru dan siswa.
5)      Mengembangkan kreativitas siswa melalui kegiatan intra danekstrakurikuler.
6)      Menumbuhkan semangat belajar siswa melalui kegiatan intra danekstrakurikuler. (Sumber Data : Dokumen MI. Mambaul Ulum 2008/2009)
c.       Tujuan MI. Mambaul Ulum
1)      Tujuan akademik
Pada tahun 2006/2007 sampai dengan 2008/2009 Madrasahmenghasilkan:
a.    Rata-rata peningkatan hasil UAS (Ujian Akhir Sekolah)
b.    Peningkatan rata-rata nilai UAS 6,82 (5,67)
1)   Mata Pelajaran Bahasa Indonesia 8,65 dari (7,80)
2)   Mata Pelajaran IPA 7,00 dari (6,50)
3)   Mata Pelajaran IPS 6,00 dari (5,70)
4)   Mata Pelajaran Fiqih 9,15 dari (8,81)
c.    Penerimaan out put di sekolah lanjutan negeri / favorit 25 % dari20 %
2)      Tujuan non akademik
Pada tahun 2006/2007sampai dengan 2008/2009 Madrasah mampu :
a.    Meningkatkan jumlah siswa yang mengikuti shalat jama’ahmencapai 95%.
b.    Menghasilkan lulusan yang terampil dalam pengoprasionalankomputer dasar sebagai pelajaran ekstrakurikuler.



BAB V
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitiaan pada bab IV dan pembahasan pada bab V,peneliti menyimpulkan bahwa:
1.      Perencanaan pembelajaran dengan menggunakan media surat kabar dalampembelajaran Bahasa Indonesia kelas V MI Mambaul Ulum KasriBululawang diawali dengan (1) menjabarkan kompetensi dasar yang telahada dalam silabus ke dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).Yaitu kompetensi dasar keterampilan membaca; menemukan informasisecara cepat dari berbagai teks khusus yang dilakukan melalui membacamemindai. Dan keterampilan berbicara; mengomentari persoalan factualdisertai alasan yang mendukung dengan memperhatikan pilihan kata dansantun berbahasa. (2) menentukan media dan metode yang akanditerapkan. Yaitu media surat kabar dengan menggunakan metode teamquis/kerja kelompok, diskusi, inquiry dan lain-lain.
2.      Pelaksanan pembelajaran dengan menggunakan media surat kabar dalampembelajaran Bahasa Indonesia kelas V MI Mambaul Ulum KasriBululawang, guru menggunakan beberapa metode pembelajaran sepertikerja kelompok/team quis, diskusi, inquiry dan lain-lain, untuk membantudalam penyampaian pesan dan meningkatkan partisipasi siswa dalamkelas. Pelaksanaan pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menggunakanmedia surat kabar dapat menemukan pengetahuan yang baru bagi siswa,siswa lebih mudah untuk memberikan komentar/ solusi dengan logisterhadap persoalan tertentu, karena banyak menemukan ide-ide darimembaca berita-berita di surat kabar, serta menumbuhkan minat bacasiswa.
3.      Penilaian proses dan hasil dari penggunaan media surat kabar dalampembelajaran Bahasa Indonesia kelas V MI Mambaul Ulum KasriBululawang menunjukkan siswa senang terhadap penggunaan media suratkabar dalam pembelajaran Bahasa Indonesia; terlihat lebih bersemangat;suasana kelas menjadi hidup; keberanian dalam mengemukakan pendapat;perasaan malu-malu dan takut sudah hilang; dapat menemukanpengetahuan yang baru, dan lebih mudah untuk memberikan komentar/solusi dengan logis terhadap persoalan tertentu, karena banyakmenemukan ide-ide dari membaca berita-berita di surat kabar, sertamenumbuhkan minat baca siswa. Secara kuantitatif hasil tes jugamenunjukkan tingkat keberhasilan yang tinggi. Yaitu 90.32% siswadinyatakan lulus, sedangkan sebelum adanya tindakan terdapat 54.83%.Yang berarti mengalami peningkatan sebesar 35.49%.

B.     Saran
Para guru hendaknya berpikir kreatif untuk menentukan strategi,pendekatan, metode dan media apa yang harus diterapkan guna mencapaikompetensi dasar yang ditargetkan dalam kurikulum. Bukan hanya kegiatanpembelajaran yang menuntut mereka untuk mengajarkan materi yang harusdikuasai oleh siswa. Pemahaman tentang berbagai strategi pembelajaranhendaknya lebih ditingkatkan. Guna menciptakan pembelajaran yang aktif,inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Karena rendahnya hasil belajaryang dicapai siswa tidak semata-mata disebabkan kemampuan siswa, tetapijuga bisa disebabkan kurang berhasilnya guru dalam mengajar.



DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an dan Terjemahnya. 1992. Semarang: PT. Tanjung Mas Inti.
Arikunto, Suharsimi, dkk. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
Arsyad, Azhar. 2007. Media Pembelajaran. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Aqib, Zainal, Elham Rohmanto. 2007. Membangun Profesionalisme Guru dan Pengawas Sekolah. Bandung: C.V Yrama Widya.
Batik FKIP Uninus. Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesi, (http:pbsindonesia. FKIP. Uninus. Org. diakses 14 maret 2009.
Budiman, Membaca Itu Apa?(http: ipaa.edidi.edu.com) diakses 19 maret 2009.
Budiningsih,Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Cluwuk Munawaroh. Hakikat Menyimak, (http: gumawang city. blogspot.com, diakses 14 Maret 2009 )
Fitri, Nurul. Media Pembelajaran Murah Meriah, (http: club guru.com, diakses 21 Maret 2009)
Gunansyah. Web’s dan Pengembangan Profesi Guru (http: gunansyah. Web.id, diakses 14 maret 2009)
Hamid, Abdul, dkk. 2000. Pembelajaran Bahasa Arab (pendekatan, metode, strategi, materi dan media). Malang: UIN Malang Prees.
Huberman, dkk. 1997. Anlisis Data Kualitiatif. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Jalaluddin, Usman Said. 1994. Filsafat Pendidikan Islam(konsep dan perkembangan pemikirannya). Jakarta: PT Grafindo Persada.
Kurniawan, Nursidik. Karakteristik Pendidikan Anak Usia SD, (http:howitzer.multiply.com, diakses 21 maret 2009)
Kurikulum 2006. Bahasa Indonesia kelas 5. Departemen Pendidikan Kota Malang.
Margono. 2000. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Ciptaka.
Miarso, Yusufhadi. 1984. Teknologi Komunikasi Pendidikan. Jakarta: CV.Rajawali.
--------- 1987. Pemilihan dan Pengembangan Media untuk Pembelajaran . Jakarta: CV. Rajawali,
Muhaimin, dkk. 2004. Paradigma pendidikan Islam (Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah). Bandung: PT. Rosdakarya.
Muhibbin, Syah. 2000. Psikologi Pendidikan (Dengan Pendekatan Baru). Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Mohamad Zehen. 2008. “Pengunaan Media Grafis Untuk Meningkatkan Pemahaman Generalisasi Pelaku Ekonomi Dan Interaksi Pada Siswa Kelas X-A Ma Aswaj Ambunten” , Skripsi, fakultas Tarbiyah,
Moleong, Lexy. J. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif . Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Mustakim. 1994. Membina Kemampuan Berbahasa, Jakarta: PT Gramedia PutakaUtama.
Partanto, A. Pius, Dahlan Al-Barry. 1994. Kamus Ilmiah Popular. Surabaya: Arkola.
Pencil book. Pengertian Membaca (http: pencil book. word prees.com, diakses 14 maret 2009)
Pengertian Ketrampilan Berbicara (http://aldonsamosir.files.wordpress.com, diakses 14 Maret 2009)
Ratna Restapaty. 2007 . “Pemanfaatan Media Massa sebagai Media Pembelajaran Bahasa Indonesia pada Siswa Kelas VII. 1 dan VII. 8 di SMP Negeri 6 Malang”, Skripsi., fakultas Ilmu Pendidikan UM Malang.
Rohani, Ahmad. 1997. Media Instruksional Edukatif. Jakarta: PT. Rhineka Cipta.
Rachim, Farida 2006. Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar,. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Saliwangi, Bassenang. 1991. Pengantar Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia. Malang: IKIP Malang.
Sudjana, Nana, Ahmad Rivai. 1999. Media Pengajaran. Bandung: C.V. Sinar Baru
-------, 2005. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar Bandung: Sinar Baru
Algensindo, Sugiono. 2006. Statistik Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.
Solchan. 1996. Interaksi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia SD. Malang: IKIP Malang.
Umar Muslim. KTSP dan Pembelajaran Bahasa Indonesia (http: john herf.wordpress.com, diakses 21 Maret 2009
Wahidmurni. 2008. Penelitian Tindakan Kelas (Dari Teori Menuju Praktek disertai Hasil Contoh PTK). Malang: Um Press.
-------, Nur Ali. 2008. Penelitian Tindakan Kelas (Pendidikan Agama Dan Umum
Dari Teori Menuju Praktik Disertai Contoh Hasil Penelitian). Malang: UM Press.
Wiriaatmadja, Rochiati. 2007. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Wardan, Solihin, Anang. 2000. Pengajaran Bahasa Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: PT. Rosdakarya.

No comments:

Post a Comment

Enjoy comment! :D