MAKALAH
FILSAFAT
CARA
BELAJAR & MENGAJAR YANG EFEKTIF
OLEH:
HARDIAN
HARNO
1447041037
M 3.4
PENDIDIKAN
GURU SEKOLAH DASAR (PGSD)
UNIVERSITAS
NEGERI MAKASSAR
2014/2015
BAB I
a.
Latar Belakang
Salah
satu permasalahan dewasa ini dari dunia pendidikan adalah tidak efektifnya
metode belajar-mengajar. Sehingga seorang guru harus terlebih dahulu mampu
mengetahui dan mengidentifikasi masalah-masalah dalam proses mengajar yang baik
serta efektif. Selain itu prinsif-prinsif dalam mengajar juga harus dimiliki,
seperti Menguasai Isi Materi Pengajaran, Mengetahui dengan Jelas Sasaran
Pengajaran danMenguasai Kejiwaan Murid.
Jika keseluruh aspek
tersebut di kuasai oleh seorang guru, besar kemungkinan siswa yang akan di
berikan materi pelajaran akan paham akan materi yang disampaikan guru.
b.
Tujuan
makalah
1. Siswa
mampu belajar dengan sungguh-sungguh.
2. Siswa
mengerti akan makna belajar yang baik.
3. Dengan
memahami aspek-aspek pengajaran, guru di harapkan mampu memberi materi kepada
siswa.
BAB II
PEMBAHASAN
Belajar
dan Pembelajaran yang Efektif
Salah satu permasalahan
kontemporer dari dunia pendidikan saat ini adalah tidak efektifnya metode
belajar-mengajar.Sehingga titik temu yang dihasilkan dari keinginan dan
kemampuan guru dalam mengajar dan siswa dalam belajar tidak optimal.Kadang guru
lebih nyaman dengan metode pemberian tugas, tapi siswanya justru lebih bisa
menangkap jika ada penjelasan dari guru.
Sebagaimana dikatakan
bahwa belajar pada dasarnya adalah suatu proses perubahan manusia. Dalam ilmu
psikologi, proses belajar berarti cara-cara atau langkah-langkah (manners or
operation) khusus yang dengannya beberapa perubahan ditimbulkan hingga tercapai
tujuan tertentu. (Rober ,1988, dalam Muhibin,1995). Dalam pengertian tersebut
tahapan perubahan dapat diartikan sepadan dengan proses. Jadi proses belajar
adalah tahapan perubahan perilaku kognitif, afektif dan psikomotor yang terjadi
dalam diri siswa. Perubahan tersebut bersifat positif dalam arti berorientasi
ke arah yang lebih maju dari pada keadaan sebelumnya.Dalam uraian tersebut
digambarkan bahwa belajar adalah aktifitas yang berproses menuju pada satu
perubahan dan terjadi melalui tahapan-tahapan tertentu.
Kemajuan hasil belajar
bidang pengetahuan dan teknologi tinggi digunakan untuk membuat senjata
pemusnah sesama manusia.Jadi belajar disamping membawa manfaat namun dapat juga
menjadi mudarat.Meskipun ada dampak negatif dari hasil belajar namun kegiatan
belajar memiliki arti penting yaitu dengan belajar seseorang dapat
mempertahankan dirinya untuk tetap bertahan hidup dari segala macam gangguan
baik yang datang dari dalam dirinya maupun juga yang datang dari luar dirinya.
A.
BELAJAR
v Belajar
adalah usaha aktif dari seseorang yang dilakukan secara sadar untuk mengubah
perilakunya sendiri.
v Belajar
adalah suatu perubahan perbuatan sebagai akibat dari mengalami.
v Belajar
adalah proses perbaikan pengetahuan dan keterampilan dengan cara mengalami
sendiri.
v Belajar
adalah mengubah perbuatan, yaitu pengetahuan dan keterampilan, yang hasilnya
dapat benar atau salah.
v Belajar
adalah suatu proses untuk mendapatkan kemampuan agar dapat menggantikan
perilaku yang buruk menjadi baik.
Hampir semua perilaku
manusia adalah hasil dari proses belajarnya, sehingga dapat dikatakan bahwa
proses belajar adalah proses pematangan atau pendewasaan seseorang. Belajar
juga didorong oleh kebutuhan atau keinginan yang dimiliki dan dirasakan oleh
orang yang bersangkutan.
Ada beberapa pendapat yang dikemukakan tentang hakekat/pengertian
belajar antara
lain:
a. Menurut Morgan (Whandi: 2009)
belajar didefinisikan sebagai setiap perubahan tingkah laku yang
relatif tetap dan terjadi sebagai hasil pengalaman Definisi ini. Mencakup tiga
unsur, yaitu: (1). Belajar adalah perubahan tingkah laku, (2). Perubahan
tersebut terjadi karena latihan atau pengalaman. Perubahan yang terjadi pada
tingkah laku karena kedewasaan bukan belajar, dan (3). Perubahan tersebut harus
relatif permanen dan tetap ada untuk waktu yang cukup lama.
b. Menurut Snelbecker (Whandi: 2009)
menyimpulkan devinisi belajar sebagai berikut: (1) Belajar harus
mencakup tinglah laku. (2) Tingkah laku tersebut harus berubah dari tingkat
yang paling sederhana sampai yang kompleks. (3) Proses perubahan tingkah laku
tersebut harus dapat dikontrol sendiri atau dikontrol oleh faktor-faktor
eksternal.
c. Menurut Gagne (Whandi: 2009) Belajar
adalah suatu proses dimana suatu organisma berubah tingkah lakunya sebagai
akibat pengalaman Dari pengertian tersebut terdapat tiga atribut pokok
atau ciri utama belajar, yaitu: proses, perilaku, dan pengalaman, dengan
pengertian sebagai berikut:
1) Proses; Belajar adalah proses mental
dan emosional atau proses berpikir dan merasakan. Seseorang dikatakan belajar
apabila pikiran dan perasaannya aktif. Aktifitas pikiran dan perasaan itu
sendiri tidak dapat diamati orang lain, akan tetapi terasa oleh yang
bersangkutan yang dapat diamati guru adalah manifestasinya, yaitu
kegiatan siswa sebagai akibat dari adanya aktifitas pikiran dan perasaan pada
diri siswa tersebut.
2) Perubahan Perilaku; Hasil belajar
berupa perubahan perilaku atau tingkah laku seseorang yang belajar akan berubah
atau bertambah perilakunya, baik yang berupa pengetahuan, ketrampilan, atau
penguasaan nilai-nilai sikap.
3) Pengalaman; Belajar adalah
mengalami, dalam arti belajar terjadi di dalam interaksi antara individu dengan
lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun sosial. Lingkungan fisik, misalnya
:buku, alat peraga, alam sekitar. Lingkungan sosial, misalnya: guru, siswa
pustakawan, dan Kepala Sekolah.
Belajar bisa melalui pengalaman
langsung maupun melalui pengalaman tidak langsung.Belajar melalui pengalaman
langsung, misalnya siswa belajar dengan melakukan sendiri dan pengalaman
sendiri.Belajar melalui pengalaman tidak langsung, misalnya mengatahui dari
membaca buku, mendengarkan penjelasan guru. Belajar dengan melalui pengalaman
langsung hasilnya akan lebih baik karena siswa lebih memahami, lebih menguasai
pelajaran tersebut, bahkan pelajaran terasa oleh siswa lebih bermakna.
d. Menurut HM. Surya (2002), belajar adalah
suatu proses yang dilakukan oleh Individu untuk memperoleh perubahan tingkah
laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu iti
sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Menurutnya ada keterkaitan
antara pengertian belajar dengan pengertian lain, misalnya:
1) Belajar dan Pertumbuhan,
Perkembangan dan Kematangan.
Dalam
proses pertumbuhan, perkembangan, dan kematangan,akan terjadi perubahan tingkah
laku. Akan tetapi perubahan yang terjadi dalam ketiga pengertian itu tidak
tergolong sebagai perubahan dalam arti belajar. Perubahan yang terjadi dalam
pertumbuhan, perkembangan, dan kematangan akan terjadi dengan sendirinya karena
dorongan dari dalam secara naluriah. Proses belajar efektif apabila ada
persesuaian dengan proses pertumbuhan, perkembangan, dan kematangan. Sebaliknya
proses pertumbuhan dan perkembangan akan berlangsung dengan baik apabila
disertai dengan belajar.
2) Belajar dan Menghafal
Antara
belajar dan menghafal ada keterkaitan.Belajar mempunyai pengertian lebih luas
daripada menghafal.Dalam menghafal perubahan tingkah lakunya hanya terbatas
dalam penyimpanan dan pengeluaran informasi dalam kesadaran (otak).Sedangkan
dalam belajar perubahan tingkah lakunya mencakup keseluruhan. Menghafal hanya
salah satu aspek saja dari tingkah laku kognitif, dan belum mencakup
tingkah laku lainnya.
3) Belajar dan Latihan
Belajar
dan latihan mempunyai keterkaitan meskipun tidak identik Dalam belajar dan
dalam latihan akan terjadi perubahan tingkah laku. Aspek tingkah
laku yang berubah karena latihan adalah perubahan dalam bentuk skil atau
ketrampilan.
4) Belajar dan Studi
Dalam
aktifitas studi, perubahan tingkah laku yang terjadi adalah aspek
pengetahuan (knowledge) dan pemahaman (understanding) Aktifitas studi merupakan
bagian dari aktifitas belajar secara keseluruhan.
5) Belajar dan Berpikir
Ada
keterkaitan antara belajar dan berpikir. Berpikr merupakan proses kognitif
dalam tingkah laku yang lebih tinggi. Dalam berpikir individu akan menggunakan
berbagai informasi yang dimilikinya untuk memecahkan masalah yang dihadapinya.
Untuk dapat berpikir secara efektif seseorang harus menguasai sejumlah
informasi (fakta, konsep, generalisasi, prinsip, teori, dan sebagainya),
Informasi yang dimiliki seseorang diperoleh melalui belajar.
I.
JENIS-JENIS BELAJAR
a.
Menurut Robert M. Gagne
Manusia memilki beragam
potensi, karakter, dan kebutuhan dalam belajar.Karena itu banyak tipre-tipe
belajar yang dilakukan manusia.
Gagne mencatat ada delapan tipe belajar :
1. Belajar
isyarat (signal learning). Menurut Gagne, ternyata tidak semua reaksi sepontan
manusia terhadap stimulus sebenarnya tidak menimbulkan respon.dalam konteks
inilah signal learning terjadi. Contohnya yaitu seorang guru yang memberikan
isyarat kepada muridnya yang gaduh dengan bahasa tubuh tangan diangkat kemudian
diturunkan.
2. Belajar
stimulus respon. Belajar tipe ini memberikan respon yang tepat terhadap
stimulus yang diberikan. Reaksi yang tepat diberikan penguatan (reinforcement)
sehingga terbentuk perilaku tertentu (shaping). Contohnya yaitu seorang guru
memberikan suatu bentuk pertanyaan atau gambaran tentang sesuatu yang kemudian
ditanggapi oleh muridnya. Guru member pertanyaan kemudian murid menjawab.
3. Belajar
merantaikan (chaining). Tipe ini merupakan belajar dengan membuat
gerakan-gerakan motorik sehingga akhirnya membentuk rangkaian gerak dalam
urutan tertentu. Contohnya yaitu pengajaran tari atau senam yang dari awal
membutuhkan proses-proses dan tahapan untuk mencapai tujuannya.
4. Belajar
asosiasi verbal (verbal Association). Tipe ini merupakan belajar menghubungkan
suatu kata dengan suatu obyek yang berupa benda, orang atau kejadian dan merangkaikan
sejumlah kata dalam urutan yang tepat. Contohnya yaitu Membuat langkah kerja
dari suatu praktek dengan bntuan alat atau objek tertentu. Membuat prosedur
dari praktek kayu.
5. Belajar
membedakan (discrimination). Tipe belajar ini memberikan reaksi yang
berbeda–beda pada stimulus yang mempunyai kesamaan. Contohnya yaitu seorang
guru memberikan sebuah bentuk pertanyaan dalam berupa kata-kata atau benda yang
mempunyai jawaban yang mempunyai banyak versi tetapi masih dalam satu bagian
dalam jawaban yang benar. Guru memberikan sebuah bentuk (kubus) siswa menerka
ada yang bilang berbentuk kotak, seperti kotak kardus, kubus, dsb.
6. Belajar
konsep (concept learning). Belajar mengklsifikasikan stimulus, atau menempatkan
obyek-obyek dalam kelompok tertentu yang membentuk suatu konsep. (konsep :
satuan arti yang mewakili kesamaan ciri). Contohnya yaitu memahami sebuah
prosedur dalam suatu praktek atau juga teori. Memahami prosedur praktek uji
bahan sebelum praktek, atau konsep dalam kuliah mekanika teknik.
7. Belajar
dalil (rule learning). Tipe ini meruoakan tipe belajar untuk menghasilkan
aturan atau kaidah yang terdiri dari penggabungan beberapa konsep. Hubungan
antara konsep biasanya dituangkan dalam bentuk kalimat. Contohnya yaitu seorang
guru memberikan hukuman kepada siswa yang tidak mengerjakan tugas yang
merupakan kewajiban siswa, dalam hal itu hukuman diberikan supaya siswa tidak
mengulangi kesalahannya.
8. Belajar
memecahkan masalah (problem solving). Tipe ini merupakan tipe belajar yang
menggabungkan beberapa kaidah untuk memecahkan masalah, sehingga terbentuk
kaedah yang lebih tinggi (higher order rule). Contohnya yaitu seorang guru
memberikan kasus atau permasalahan kepada siswa-siswanya untuk memancing otak
mereka mencari jawaban atau penyelesaian dari masalah tersebut.
II.
Ciri-Ciri Belajar
Ciri-ciri belajar
adalah sebagai berikut :
1.
Adanya kemampuan baru atau perubahan.
Perubahan tingkah laku bersifat pengetahuan (kognitif), keterampilan
(psikomotorik), maupun nilai dan sikap (afektif).
2.
Perubahan itu tidak berlangsung sesaat
saja melainkan menetap atau dapat disimpan.
3.
Perubahan itu tidak terjadi begitu saja
melainkan harus dengan usaha. Perubahan terjadi akibat interaksi dengan
lingkungan.
4.
Perubahan tidak semata-mata disebabkan
oleh pertumbuhan fisik/ kedewasaan, tidak karena kelelahan, penyakit atau
pengaruh obat-obatan.
Berikut beberapa faktor
pendorong mengapa manusia memiliki keinginan untuk belajar:
1. Adanya
dorongan rasa ingin tahu
2. Adanya
keinginan untuk menguasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi sebagai tuntutan zaman
dan lingkungan sekitarnya.
3. Mengutip
dari istilah Abraham Maslow bahwa segala aktivitas manusia didasari atas
kebutuhan yang harus dipenuhi dari kebutuhan biologis sampai aktualisasi diri.
4. Untuk
melakukan penyempurnaan dari apa yang telah diketahuinya.
5. Agar
mampu bersosialisasi dan beradaptasi dengan lingkungannya.
6. Untuk
meningkatkan intelektualitas dan mengembangkan potensi diri.
7. Untuk
mencapai cita-cita yang diinginkan.
8. Untuk
mengisi waktu luang.
b. Menurut
UNESCO
UNESCO telah mengeluarkan kategori jenis
belajar yang dikenal sebagai empat pilar dalam kegiatan belajar ( A. Suhaenah
Suparno, 2000 ) :
1.
Learning to know. Pada Learning to know ini terkandung
makna bagaimana belajar, dalam hal ini ada tiga aspek : apa yang dipelajari,
bagaimana caranya dan siapa yang belajar.
2.
Learning to do. Hal ini dikaitkan dengan dunia kerja,
membantu seseorang mampu mempersiapkan diri untuk bekerja atau mencari nafkah.
Jadi dalam hal ini menekankan perkembangan ketrampilan untuk yang berhubungan
dengan dunia kerja.
3.
Learning to live together. Belajar ini ditekankan
seseorang/pihak yang belajar mampu hidup bersama, dengan memahami orang lain,
sejarahnya, budayanya, dan mampu berinteraksi dengan orang lain secara
harmonis.
Learning to be.Belajar ini ditekankan
pada pengembangan potensi insani secara maksimal.Setiap individu didorong untuk
berkembang dan mengaktualisasikan diri. Dengan learning to be seseorang akan
mengenal jati diri, memahami kemampuan dan kelemahanya dengan
kompetensi-kompetensinya akan membangun pribadi secara utuh.
III.
PRINSIP-PRINSIP BELAJAR
Dalam melaksanakan
pembelajaran, agar dicapai hasil yang lebih optimal perlu diperhatikan beberapa
prinsip pembelajaran.Prinsip pembelajaran dibangun atas dasar prinsip-prinsip
yang ditarik dari teori psikologi terutama teori belajar dan hasil-hasil
penelitian dalam pembelajaran. Prinsip pembelajaran bila diterapkan dalam
proses pengembangan pembelajaran dan pelaksanaan pembelajaran akan diperoleh
hasil yang lebih optimal. Oleh karena itu untuk mencapai kegiatan pembelajaran
yang efektif dan efisien, guru harus memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran
yang dikemukakan oleh Gagne dan Atwi Suparman.
Pembelajaran yang
efektif dan bermakna dapat dilakukan dengan prosedur pemanasan dan apersepsi,
eksplorasi, konsolidaesi pembelajaran, pembentukan kompetensi; sikap dan
perilaku, penilaian formatif. Pada dasarnya prinsip-prinsip belajar adalah
perhatian, motivasi, keaktifan siswa, keterlibatan langsung, pengulangan
belajar, materi belajar yang merangsang dan menantang, penguatan kepada siswa
dan aspek psikologi lain. Perhatian, dalam pembelajaran guru hendaknya tidak mengabaikan
masalah perhatian.Sebelum pembelajaran dimulai guru hendaknya menarik perhatian
siswa agar siswa berkonsentrasi dan tertarik pada materi pelajaran yang sedang
diajarkan.
Motivasi, Jika perhatian siswa sudah
terpusat maka langkah guru selanjutnya memotivasi siswa.Walaupun siswa udah
termotivasi dengan kegiatan awal saat guru mengkondisikan agar perhatian siswa
terpusat pada materi pelajaran yang sedang berlangsung. Namun guru wajib
membangun motivasi sepanjang proses belajar dan pembelajaran berlangsung agar
siswa dapa mengikuti pelajaran dengan baik. Keaktifan
siswa, Pembelajaran yang bermakna apabila siswa aktif dalam proses belajar
dan pembelajaran. Siswa tidak sekedar menerima dan menelan konsep-konsep yang
disampaikan guru, tetapi siswa beraktivitas langsung.Dalam hal ini guru perlu
menciptakan situasi yang menimbulkan aktivitas siswa.
Keterlibatan langsung, pelibatan
langsung siswa dalam proses pembelajaran adalah penting. Siswalah yang
melakukan kegiatan belajar bukan guru. Supaya siswa banyak terlibat dalam
proses pembelajaran, guru hendaknya memilih dan mempersiapkan kegiatan-kegiatan
sesuai dengan tujuan pembelajaran. Pengulangan
belajar, Penguasaan meteri oleh siswa tidak bisa berlangsung secara
singkat.Siswa perlu melakukan pengulangan-pengulangan supaya meteri yang
dipelajari tetap ingat.Oleh karena itu guru harus melakukan sesuatu yang
membuat siswa melakukan pengulangan belajar.
Materi pelajaran yang merangsang dan menantang, kadang siswa merasa bosan dan tidak tertarik dengan materi yang
sedang diajarkan.Untuk menghindari gejala yang seperti ini guru harus memilih
dan mengorganisir materi sedemikikan rupa sehingga merangsang dan menantang
siswa untuk mempelajarinya.Balikan atau penguatan kepada siswa, penguatan atau
reinforcement mempunyai efek yang besar jika sering diberikan kepada
siswa.Setiap keberhasilan siswa sekecil apapun, hendaknya ditanggapi dengan
memberikan penghargaan.
Aspek-aspek psikologi lain, setiap
siswa memiliki karakteristik yang berbeda. Perbedaan individu baik secara fisik
maupun secara psikis akan mempengaruhi cara belajar siswa tersebut, sehingga
guru perlu memperhatikan cara pembelajaran yang diberikan kepada siswa tersebut
misalnya, mengatur tempat duduk, mengatur jadwal pelajaran , dll.
B. Mengajar
Yang Efektif
Mengajar adalah membimbing siswa, agar mengalami proses
belajar. Dalam belajar, siswa menghendaki hasil belajar yang efektif bagi
dirinya.Mengajar yang efektif berarti mencapai tujuan, siswa belajar meraih
target sesuai dengan kriteria target pada perencanaan. Mengajar yang efektif
jika siswa dapat menyerap materi pelajaran dan mempraktekannya sehingga
memperoleh keterampilan terbaiknya. Mengajar yang efektif berarti guru
dapat menggunakan waktu yang sesingkat-singkatnya dengan hasil setinggi-tingginya.Jadi
mengajar yang efektif berarti mengajar yang efisien.
Efektif itu artinya mencapai target yang ditetapkan dalam
rencana. Oleh karena itu perencanaan pembelajaran yang efektif adalah yang
menetapkan kiteria target dan guru melakukan pengukuran pencapaian. Jadi,
mengajar yang efektif itu jika pelaksanaannya terdapat instrumen untuk mengukur
keberhasilan dan melaksanakan pengukuran.
Untuk memenuhi tuntutan tersebut, guru harus membantu dengan
cara mengajar yang efektif. Mengajar
yang efektif adalah mengajar yang dapat membawa belajar siswa yang efektif
pula. Maka, untuk mengajar yang efektif diperlukan syarat-syarat sebagai
berikut :
1) Belajar secara aktif, baik mental
maupun fisik. Didalam belajar, siswa harus mengalami aktivitas mental, dan juga
aktivitas jasmani.
2) Guru harus menggunakan banyak metode
pada waktu mengajar. Dengan variasi metode, mengakibatkan penyajian bahan
pelajaran lebih menarik perhatian siswa, mudah diterima siswa, dan suasana
kelas menjadi hidup.
3) Motivasi. Hal ini sangat berperan
pada kemajuan, perkembangan anak selanjutnya melalui Proses Belajar Mengajar.
Bila motivasi guru tepat mengenai sasaran akan meningkatkan kegiatan anak dalam
belajar.
4) Kurikulum yang baik dan seimbang.
Kurikulum sekolah ini juga harus mampu mengembangkan segala segi kepribadian
anak, disamping kebutuhan anak sebagai anggota masyarakat.
5) Guru perlu mempertimbangkan pada
perbedaan individual. Guru tidak cukup hanya merencanakan pengajaran klasikal,
karena masing-masing anak mempunyai perbedaan dalam beberapa segi, misalnya
intellegensi, bakat, tingkah laku, sikap, dll.
6) Guru akan mengajar dengan efektif,
bila selalu membuat perencanaan dahulu sebelum mengajar. Dengan persiapan
mengajar, guru akan merasa mantap dan lebih percaya diri berdiri didepan kelas
untuk melakukan interaksi dengan siswa-siswinya.
7) Pengaruh guru yang sugestif perlu
diberikan pula kepada anak. Sugesti yang kuat, akan merangsang anak untuk lebih
giat lagi dalam belajar.
8) Seorang guru harus memiliki
keberanian menghadapi murid-muridnya, berkenaan dengan permasalahan yang timbul
pada saat Proses Belajar Mengajar berlangsung.
9) Guru harus mampu menciptakan suasana
yang demokratis disekolah. Lingkungan yang saling menghormati, dapat memahami
kebutuhan anak, bertenggang-rasa, dll.
10) Pada penyajian bahan pelajaran pada
anak, guru perlu memberikan persoalan yang dapat merangsang anak untuk berpikir
dan memunculkan reaksinya.
11) Semua pelajaran yang diberikan anak
perlu di integrasikan, sehingga anak memiliki pengetahuan yang terintegrasi,
tidak terpisah-pisah pada sistem pengajaran lama, yang memberikan pelajaran
terpisah satu sama lainnya.
12) Pelajaran disekolah perlu
dihubungkan dengan kehidupan nyata di masyarakat.
13) Dalam interaksi belajar-mengajar,
guru harus banyak memberi kebebasan pada anak untuk dapat menyelidiki sendiri,
belajar sendiri, mencari pemecahan masalah sendiri.
14) Pengajaran remedial, yang diadakan
bagi siswa yang mengalami kesulitan belajar.
Mengajar yang efektif berarti mencapai tujuan, siswa belajar
meraih target sesuai dengan kriteria target pada perencanaan. Mengajar yang
efektif jika siswa dapat menyerap materi pelajaran dan mempraktekannya sehingga
memperoleh keterampilan terbaiknya. Mengajar yang efektif berarti guru
dapat menggunakan waktu yang sesingkat-singkatnya dengan hasil setinggi-tingginya.Jadi
mengajar yang efektif berarti mengajar yang efisien.
Efektif itu artinya mencapai target yang ditetapkan dalam
rencana. Oleh karena itu perencanaan pembelajaran yang efektif adalah yang
menetapkan kiteria target dan guru melakukan pengukuran pencapaian. Jadi,
mengajar yang efektif itu jika pelaksanaannya terdapat instrumen untuk mengukur
keberhasilan dan melaksanakan pengukuran.
Kaidah yang berlaku dalam penerapan standar, pembelajaran
dinyatakan efektif jika menggunakan metode yang bervariasi.Nah, yang satu ini
memang beresiko.Perlu ada sistem penjaminan bahwa kebervariasian menggunakan
metode itu benar-benar mengarah pada pencapaian tujuan.Jika tidak maka
kebervariasian itu tidak menjamin berkembangnya motivasi dan minat siswa
belajar.
Jika kebervariasian metode mengajar menjadi ciri efektifnya
guru mengajar, maka guru yang profesional harus ditandai dengan menguasai
sejumlah metode dan mampu mengaplikasikannya.Pekerjaan itu baru sempurna
dinyatakan efektif jika benar-benar memfasilitasi siswa belajar untuk menguasai
kompetensi yang diharapkan.
Sepuluh Jenis Prinsip
Dasar Dalam Cara Mengajar yang Efetif.
a. Menguasai Isi Pengajaran
Hukum yang pertama dalam
teori “Tujuh Hukum Mengajar” dari John Milton Gregory berbunyi: “Guru harus
mengetahui apa yang diajarkan.” Jika guru sendiri mengetahui dengan jelas inti
pelajaran yang akan disampaikan, ia dapat meyakinkan murid dengan wibawanya,
sehingga murid percaya apa yang dikatakan guru, bahkan merasa tertarik terhadap
pelajaran.
b. Mengetahui dengan Jelas Sasaran Pengajaran
Pengajaran yang jelas
sasarannya membuat murid melihat dengan jelas inti dari pokok pelajaran itu.
Mereka dapat menangkap seluruh liputan pelajaran, bahkan mengalami kemajuan
dalam proses belajar. Empat macam ciri khas yang harus diperhatikan pada saat memilih
dan menuliskan sasaran pengajaran:
a.
Inti dari sasaran harus disebutkan dengan jelas.
b.
Ungkapan penting dari sasaran harus bertitik tolak dari konsep
murid.
c.
Sasaran harus meliputi hasil belajar.
Contoh: Contoh-contoh di
atas telah menjelaskan empat macam hasil belajar yang berbeda: pengetahuan,
pengertian, sikap, dan ketrampilan.
c. Utamakan Susunan yang Sistematis
Pengajaran yang tidak
bersistem bagaikan sebuah lukisan yang semrawut, tidak memberikan kesan yang
jelas bagi orang lain. Tidak adanya inti, tidak tersusun, tidak sistematis,
akan sulit dipahami dan sulit diingat. Oleh sebab itu inti pengajaran harus
disusun dengan teratur dan sistematis.
d.
Banyak Gunakan Contoh Kehidupan
Pada saat mengajar,
seringlah menggunakan contoh atau perumpamaan kehidupan sehari-hari atau yang
pernah dialami misalnya dalam perdagangan, rental, nilai uts / uas, dan lain
sebagainyaContoh kehidupan adalah jembatan antara kebenaran ilmu dan dunia
nyata
e. Cakap Menggunakan Bentuk Cerita
Bentuk cerita tidak
hanya diutarakan dengan kata-kata, namun juga boleh dicoba dengan menambahkan
gerakan-gerakan, yang memperdalam kesan murid.Bentuk yang paling lazim adalah
menggunakan perumpamaan untuk menjelaskan kebenaran.
f. Menggunakan Panca Indera Murid
Penggunaan bahan
pengajaran yang berbentuk audio visual berarti menggunakan panca indera murid.
Bahan pengajaran audio visual bukan saja cocok untuk Sekolah Minggu anak-anak,
juga untuk Sekolah Minggu pelbagai usia. Ensiklopedia adalah buku yang sering dipakai
oleh para ilmuwan, namun di dalamnya terdapat banyak penjelasan yang
menggunakan gambar-gambar.Itu berarti bahwa para ilmuwan pun perlu bantuan
gambar untuk mengadakan penelitian. Para ahli pernah mengadakan catatan
statistik selama 15 bulan, sebagai hasilnya mereka mendapatkan persentase dari
isi pelajaran yang masih dapat diingat oleh murid: bagi murid yang hanya
tergantung pada indera pendengaran saja masih dapat mengingat 28%, sedangkan
bagi murid yang menggunakan indera pendengaran ditambah dengan indra
penglihatan dapat mengingat 78%.
g. Melibatkan Murid dalam Pelajaran
Melibatkan murid dalam
pelajaran dapat menambah ingatan mereka, juga motivasi dan kegemaran
mereka.Cara itu dapat menghilangkan kesalahpahaman yang mungkin terjadi
ditengah pertukaran pikiran antara guru dan murid, selain mengurangi tingkah
laku yang mengacau. Misalnya: biarkan murid menggunakan kata-katanya sendiri
untuk menjelaskan argumentasi atau pendapatnya; biarlah murid menggali dan
menemukan hubungan antar konsep yang berbeda, biarlah murid bergerak sebentar.
Jika murid sibuk melibatkan diri dengan pelajaran, maka tidak ada peluang lagi
untuk mengacau atau membuat ulah.
h. Menguasai Kejiwaan Murid
Guru yang ingin
memberikan pelajaran yang sesuai dengan kebutuhan murid, tentu harus memahami
perkembangan jiwa murid pada setiap usia. Ia juga harus mengetahui dengan jelas
kebutuhan dan masalah pribadi mereka. Pengertian antara guru dan murid adalah
syarat utama untuk komunikasi timbal balik.Komunikasi yang baik dapat membuat
penyaluran pengetahuan menjadi lebih efektif.
i.
Gunakanlah Cara Mengajar yang Hidup
Sekalipun memiliki cara
mengajar yang paling baik, namun jika terus digunakan dengan tidak pernah
diubah, maka cara itu akan hilang kegunaannya dan membuat murid merasa jemu.
Cara yang terbaik adalah menggunakan cara mengajar yang bervariasi dan
fleksibel, untuk menambah kesegaran.
j.
Menjadikan Diri Sendiri Sebagai Teladan
Masalah umum para guru adalah dapat berbicara,
namun tidak dapat melaksanakan.Pengajarannya ketat sekali, namun kehidupannya
sendiri banyak cacat cela. Cara mengajar yang efektif adalah guru sendiri
menjadikan diri sebagai teladan hidup untuk menyampaikan kebenaran, dan itu
merupakan cara yang paling berpengaruh. Kewibawaan seseorang terletak pada
keselarasan antara teori dan praktek. Jikalau guru dapat menerapkan kebenaran
yang diajarkan pada kehidupan pribadinya, maka ia pun memiliki wibawa untuk
mengajar.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Belajar adalah suatu
usaha sadar yang dilakukan oleh individu dalam perubahan tingkah lakunya baik
melalui latihan dan pengalaman yang menyangkut aspek kognitif, afektif dan
psikomotor untuk memperoleh tujuan tertentu. Adapun Ciri-ciri belajar adalah
sebagai berikut :
1. Adanya kemampuan baru atau perubahan. Perubahan
tingkah laku bersifat pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik),
maupun nilai dan sikap (afektif).
2. Perubahan itu tidak berlangsung sesaat saja
melainkan menetap atau dapat disimpan.
3. Perubahan itu tidak terjadi begitu saja melainkan
harus dengan usaha. Perubahan terjadi akibat interaksi dengan lingkungan.
4. Perubahan tidak semata-mata disebabkan oleh
pertumbuhan fisik/ kedewasaan, tidak karena kelelahan, penyakit atau pengaruh
obat-obatan.
Prinsip-prinsip belajar menurut
Gagne :
1. Menarik perhatian (gaining attention)
2. Menyampaikan tujuan pembelajaran (informing learner of
the objectives)
3. Mengingatkan konsep/prinsip yang telah dipelajari (stimulating
recall or prior learning)
4. Menyampaikan materi pelajaran (presenting the stimulus)
5. Memberikan bimbingan belajar (providing learner
guidance)
6. memperoleh kinerja/penampilan siswa (eliciting
performance)
7. memberikan balikan (providing feedback)
8. Menilai hasil belajar (assessing performance)
9. Memperkuat retensi dan transfer belajar (enhancing retention
and transfer)
Mengajar yang efektif adalah mengajar yang dapat membawa
belajar siswa yang efektif pula. Maka, untuk mengajar yang efektif diperlukan
syarat-syarat sebagai berikut :
1) Belajar secara aktif, baik mental
maupun fisik.
2) Guru harus menggunakan banyak metode
pada waktu mengajar.
3) Motivasi.
4) Kurikulum yang baik dan seimbang.
5) Guru perlu mempertimbangkan pada
perbedaan individual.
6) Guru harus mampu menciptakan suasana
yang demokratis disekolah.

No comments:
Post a Comment
Enjoy comment! :D