TUGAS
MATA KULIAH FILSAFAT ILMU
FILSAFAT
PENDIDIKAN
Disusun
oleh:
Hardian
Harno
1447041037
M
3.4
PENDIDIKAN
GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS
ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
NEGERI MAKASSAR
2014/2015
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah Yang
Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan taufiq, hidayah dan inayah-Nya sehingga penulis telah selesai dalam
menyusun makalah ini. Sholawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad
SAW dan keluarga dan para sahabatnya serta para pengikut beliau yang setia.
Selanjutnya penulis mengucapkan
terima kasih kepada Dosen Pengampu mata kuliah Filsafat Ilmu Ibu Dr. Rohana
Abdullah, M.pd yang
telah memberikan tugas berupa pembuatan makalah. Mudah-mudahan dengan adanya
tugas makalah ini dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan bagi penulis.
Dari pada itu, penulis juga mengharapkan agar para pembaca dapat mengambil
manfaat dari makalah ini.
Sekiranya dalam makalah ini
terdapat kesalahan dan kekurangan, penulis mengharapakan kritik dan sarannya
yang sifatnya membangun guna menyusun makalah yang berikutnya.
Makassar, 1 Oktober
2014
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang
Filsafat berasal dari
bahasaYunani, philosophia atau philosophos. Philos
atau philein berarti teman atau cinta, dan shopia
shopos kebijaksanaan, pengetahuan, dan hikmah.atau berarti. Filsafat
berarti juga mater scientiarum yang artinya induk dari segala ilmupengetahuan.
Filsafat dan Ilmu adalah duakata yang saling berkaitan baik secara substansial
maupun historis. Kelahiran suatu ilmu tidak dapat dipisahkan dari peranan
filsafat, sebaliknya perkembangan ilmu memperkuat keberadaan filsafat. Ilmu
atau Sains merupakan komponenter besar yang diajarkan dalam semua strata
pendidikan. Walaupun telah bertahun-tahun mempelajari ilmu, pengetahuan ilmiah
tidak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu dianggap sebagai hafalansaja,
bukan sebagai pengetahuan yang mendeskripsikan, menjelaskan,memprediksikan
gejala alam untuk kesejahteraan dan kenyamananhidup. Kini ilmu telah tercerabut
dari nilai luhur ilmu, yaitu untuk menyejahterakan umat manusia. Bahkan tidak
mustahil terjadi, ilmu dan teknologi menjadi dibencana bagi kehidupan manusia,
seperti pemanasan global dan dehumanisasi. Ilmu dan teknologi telah kehilangan
rohnya yang fundamental, karena ilmu telah mengurangi bahkan menghilangkan
peran manusia, dan bahkan tanpa disadari manusia telah menjadi budakilmu dan
teknologi. Oleh karena itu, filsafat ilmu mencoba mengembalikan roh dan nilai
luhur dari ilmu, agar ilmu tidak menjadi boomerang bagi kehidupan manusia.
Filsafat ilmu akan mempertegas bahwa ilmu dan teknologi adalah instrument dalam
mencapai kesejahteraan bukan tujuan.
Penididikan merupakan suatu kegiatan yang bersifat umum bagi setiap
manusia dimuka bumi ini. Pendidikan tidak terlepas dari segala kegiatan
manusia. Dalam kondisi apapun manusia tidak dapat menolak efek dari penerapan
pendidikan. Pendidikan diambil dari kata dasar didik, yang ditambah imbuhan
menjadi mendidik. Mendidik berarti memlihara atau memberi latihan mengenai
akhlak dan kecerdasan pikiran. Dari pengertian ini didapat beberapa hal yang
berhubungan dengan Pendidikan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan adalah suatu usaha
manusia untuk mengubah sikap dan tata laku seseorang atau sekolompok orang
dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan. Pada
hakikatnya pendidikan adalah usaha manusia untuk memanusiakan manusia itu sendiri. Dalam penididkan
terdapat dua subjek pokok yang saling berinteraksi. Kedua subjek itu adalah
pendidik dan subjek didik. Subjek-subjek itu tidak harus selalu manusia, tetapi
dapat berupa media atau alat-alat pendidikan. Sehingga pada pendidikan terjadi
interaksi antara pendidik dengan subjek didik guna mencapai tujuan pendidikan.
Filsafat pendidikan adalah aplikasi dari filsafat umum dalam pendidikan.
Berbeda dengan Filsafat Umum yang objeknya adalah kenyataan keseluruhan segala
sesuatu. Filsafat Khusus /terapan mempunyai objek kenyataan salah satu aspek
kehidupan manusia yang dalam hal ini adalah pendidikan. Filsafat pendidikan
menyelidiki hakikat pelaksanaan pendidikan yang bersangkut paut dengan tujuan,
latar belakang cara dan hasilnya serta hakikat ilmu pendidikan yang bersangkut
paut terhadap struktur kegunaannya.
Seperti halnya filsafat yang lain, filsafat pendidikan pun bersifat
spekulatif, preskriptif dan analitik. Spekulatif artinya filsafat pendidikan
membangun teori-teori tentang hakikat pendidikan manusia, hakikat masyarakat
dan hakikat dunia. Preskriptif artinya filsafat pendidikan menentukan tujuan
pendidikan yang harus diikuti dan dicapai. Analitik artinya filsafat pendidikan
menjelaskan pertanyaan-pertanyaan yang spekulatif dan perspektif.
Filsafat ilmu pendidikan dapat dibataskan sebagai salah satu bentuk teori
pendidikan yang dihasilkan melaui riset baik kualitatif maupun kuantitatif.
Filsafat pendidikan ini perlu dipedomani para perencana pendidikan tentang
tujuan, isi, kurikulum yang merumuskan tujuan-tujuan pengubahan perilaku yang
bersifat personal, sosial dan ekonomi.
Karena filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat umum maka
filsafat pendidikan pun terdiri beberapa aliran seperti filsafat pendidikan
idealisme, realisme, esensialisme dan pragmatisme.
2.
Rumusan Masalah
a. Apa arti Realisme Pendidikan ?
b. Apa Bentuk dari Filsafat Pendidikan
Realisme ?
c. Bagaimana peran Filsafat Realisme
dalam Pendidikan ?
3.
Tujuan Penulisan
a. Untuk mengetahui hakikat
Pendidikan menurut Aliran Filsafat Realisme.
b. Untuk Memenuhi Tugas Terstruktur
Mata Kuliah “ Filsafat Pendidikan”.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Arti Realisme
Pada dasarnya realisme merupakan filsafat yang memandang realitas secara dualitas. Realisme berbeda
dengan materialisme dan idealisme yang bersifat monitis. Realisme berpendapat
bahwa hakikat realitas adalah terdiri atas dunia fisik dan dunia rohani.
Realisme membagi realitas menjadi dua bagian, yang subjek yang menyadari dan
mengetahui disatu pihak dan dipihak lainnya adalah adanya realita diluar
manusia yang dapat dijadikan sebagai objek pengetahuan manusia. (Uyoh Sadulloh
: 2007 : 103)
Gagasan filsafat realisme terlacak
dimulai sebelum periode abad masehi dimulai, yaitu dalam pemikiran murid
Plato bernama Aristoteles (384-322 SM). Sebagai murid Plato, sedikit banyak
Aristoteles tentu saja memiliki pemikiran yang sangat dipengaruhi Plato dalam
berfilsafat. Dalam keterpengaruhannya, Aristoteles memiliki sesuatu perbedaan
pemikiran yang membuatnya menjadi berbeda dengan Plato.
Ibarat Plato memulai filsafatnya dari sebelah selatan, Aristoteles justru
memulai dari sebelah utara. Filsafat Aristoteles tampak seperti antitesis
filsafat Plato yang justru memiliki corak idealisme. Oleh karena itu, jika
Plato meyakini bahwa apa yang sungguh-sungguh ada adalah yang ada dalam alam
idea, Aristoteles justru memandang bahwa
apa yang di luar alam ide, termasuk benda-benda yang terlihat indra
bukanlahidea yang lahir dari replikasi
yang ada dalam pikiran atau mental.
Bagi Aristoteles, benda-benda itu sungguh pun tidak ada yang
memikirkannya ia tetaplah ada. Keberadaanya tersebut tidak ditentukan oleh
akal. Disini fokus perhatian Aristoteles terhadap kemungkinan sampai pada
konsepsi-konsepsi tentang bentuk universal melalui kajian-kajian atas objek-objek
material. Kelak, ini akan menjadi dasar-dasar pertama bagi lahirnya fisika
modern serta sains. (Teguh Wangsa Gandhi : 2010 : 140).
B. Bentuk Realisme
Realisme merupakan aliran filsafat yang memiliki beraneka ragam bentuk.
Kneller membagi realisme menjadi dua bentuk, yaitu : 1) Realisme Rasional, 2)
Realisme Naturalis.(Uyoh Sadullah : 2007 : 103)
1.
Realisme Rasional
Realisme rasional dapat didefinisikan pada dua aliran, yaitu realisme
klasik dan realisme religius. Bentuk utama dari realisme religius ialah
“Scholastisisme”. Realisme klasik ialah filsafat Yunani yang pertama kali
dikembangkan oleh Aristoteles, sedangkan realisme religius, terutama
Scholatisisme oleh Thomas Aquina, dengan menggunakan filsafat Aristoteles dalam
membahas teologi gereja. Thomas Aquina menciptakan filsafat baru dalam agama
kristen, yang disebut tomisme, pada saat filsafat gereja dikuasai oleh
neoplatonisme yang dipelopori oleh Plotinus.
Realisme klasik maupun realisme religius menyetujui bahwa dunia materi
adalah nyata, dan berada diluar fikiran (idea) yang mengamatinya. Tetapi
sebaliknya, tomisme berpandangan bahwa materi dan jiwa diciptakan oleh Tuhan,
dan jiwa lebih penting daripada materi karena Tuhan adalah rohani yang
sempurna. Tomisme juga mengungkapkan bahwa manusia merupakan suatu
perpaduan/kesatuan materi dan rohani dimana badan dan roh menjadi satu. Manusia
bebas dan bertanggung jawab untuk bertindak, namun manusia juga abadi lahir ke
dunia untuk mencintai dan mengasihi pencipta, karena itu manusia mencari
kebahagiaan abadi.
a)
Realisme
Klasik
Realisme klasik oleh Brubacher (1950) disebut humanisme rasional.
Realisme klasik berpandangan bahwa manusia pada hakikatnya memiliki ciri
rasional. Dunia dikenal melalui akal, dimulai dengan prinsip “self evident”,
dimana manusia dapat menjangkau kebenaran umum. Self evident merupakan hal yang
penting dalam filsafat realisme karena evidensi merupakan asas pembuktian
tentang realitas dan pembenaran sekaligus. Self evidentmerupakan suatu bukti
yang ada pada diri (realitas, eksistensi) itu sendiri. Jadi, bukti tersebut
bukan pada materi atau pada realitas yang lain. Self evident merupakan asas
untuk mengerti kebenaran dan sekaligus
untuk membuktikan kebenaran. Self evident merupakan asas bagi pengetahuan
artinya pengetahuan yang benar buktinya ada didalam pengetahuan atau kebenaran
pengetahuan itu sendiri.
Pengetahuan tentang Tuhan, sifat-sifat Tuhan, eksistensi Tuhan, adalah
bersifat self evident. Artinya bahwa adanya Tuhan tidak perlu dibuktikan dengan
bukti-bukti lain sebab Tuhan itu self evident. Sifat Tuhan itu Esa, artinya Esa
hanya dimiliki Tuhan, tidak ada yang menyamainya terhadap sifat Tuhan tersebut.
Eksistensi Tuhan merupakan prima kausa,penyebab pertama dan utama dari segala
yang ada, yakni merupakan penyebab dari realitas alam semesta. Sebab, dari
semua kejadian yang terjadi pada alam semesta. Tujuan pendidikan bersifat
intelektual. Memperhatikan intelektual adalah penting, bukan saja sebagai
tujuan, melainkan dipergunakan sebagai alat untuk memecahkan masalah.
Bahan pendidikan yang esensial bagi aliran ini, yaitu pengalaman manusia.
Yang esensial adalah apa yang merupakan penyatuan dan pengulangan dari
pengalaman manusia.Kneller (1971) mengemukakan bahwa realisme klasik bertujuan
agar anak menjadi manusia bijaksana, yaitu seorang yang dapat menyesuaikan diri
dengan baik terhadap lingkungan fisik dan sosial. “For the classical realist
the purpose of education is enable the pupil to become an intellectually
well-balanced person, as against one who
is symply well adjust to the physical and social amvironment”.
Menurut Aristoteles, terdapat aturan, terdapat aturan moral universal
yang diperoleh dengan akal dan mengikat manusia sebagai mahklul nasional. Di
sekolah lebih menekankan perhatiannya pada mata pelajaran (subject matter),
namun, selain itu, sekolah harus menghasilkan individu-individu yang sempurna.
Menurut pandangan Aristoteles,manusia sempurna adalah manusia moderat yang
mengambil jalan tengah. Pada anak harus diajarkan ukuran moral absolute dan
universal, sebab apa yang diklatakan baik atau benar adalah untuk keseluruhan
umat manusia, bukan hanya untuk suatu ras atau suatu kelompok masyarakat
tertentu. Hal ini penting bagi anak untuk mendapatkan kebiasaan baik. Kebaikan
tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus dipelajari.
b)
Realisme
religious
Realisme religious dalam pandangannya tampak dualistis. Ia berpendapat
bahwa terdapat dua order yang terdiri atas “order natural” dan “order
supernatural”. Kedua order tersebut berpusat pada tuhan. Tuhan adalah pencipta
semesta alam dan abadi. Pendidikan merupakan suatu proses untuk meningkatkan
diri, guna mencapai yang abadi. Kemajuan diukur sesuai dengan yang abadi
tersebut yang mengambil tempat dalam alam. Hakikat kebenaran dan kebaikan
memiliki makna dalam pandangan filsafat ini. Kebenaran bukan dibuat, melainkan
sudah ditentukan, dimana belajar harus mencerminkan kebenaran tersebut.
Menurut pandangan aliran ini, struktur social berakar pada aristokrasi
dam demokrasi. Letak aristokrasinya adalah pada cara meletakan kekuasaan pada
yang lebih tahu dalam kehidupan sehari-hari. Demokrasinya berarti bahwa setiap
orang diberi kesempatan yang luas untuk memegang setiap jabatan dalam struktur
masyarakat. Hubungan antara gereja dan Negara, adlah menjaga fundamental dasar
dualism antara order natural dan order supernatural. Minat Negara terhadap
pendidikan bersifat natural, karena Negara memiliki kedudukan lebih rendah
dibandingkan dengan gereja. Moral pendidikan berpusat pada ajaran agama.
Pendidikan agama sebagai pedoman bagi anak untuk mencapai Tuhan dan Akhirat.
Menurut realisme religious, karena keteraturan dan keharmonisan alam
semesta sebagai ciptaan tuhan, maka manusia harus mempelajari alam sebagai
ciptaan tuhan. Tujuan utama pendidikan mempersiapkan individu untuk dunia dan
akhirat. Tujuan pendidikan adalah mendorong siswa memiliki keseimbangan
intelektual yang baik, bukan semata-mata penyesuaian terhadap lingkungan fisik
dan social saja. William Mc Gucken (Brubacher, 1950), seorang pengikut
aristoteles dan Thomas aquina yang berakar pada metafisika dan epistimologi,
membicarakan pula natural dan supernatural. Menurut Gucken, tanpa Tuhan tidak
ada tujuan hidup, dan pada akhirnya tidak ada tujuan pendidikan. Tujuan
pendidikan adalah mempersiapkan manusia untuk hidup didunia sekarang dalam arti
untuk mencapai tujuan akhir yang abadi untuk hidup didunia sana.
Pandangannya tentang moral, realism religious menyetujui bahwa kita dapat
memahami banyak hokum moral dengan mengunakan akal, namun secara tegas
beranggapan bahwa hukum-hukum moral tersebut diciptakan oleh Tuhan. Tuhan telah
memberkahi manusia dengan kemampuan rasional yang sangat tinggi untuk memahami
hukum moral tersebut. Tidak seperti halnya realisme natural yang hanya terbatas
pada moral alamiah, realisme religious beranggapan bahwa manusia diciptakan
memiliki kemampuan untuk melampaui alam natural, yang pada akhirnya dapat
mencapai nilai supernatural. Tujuan pendidikan adalah keselamatan atau
kebahagiaan jasmani dan rohani sekaligus. Anak yang lahir pada dasarnya
rohaninya dalam keadaan baik, penuh rahmat, diisi dengan nilai-nilai
ketuhannan. Anak akan menerima kebaikan dan menjauhi kejahatan bukan hanya
karena perintah akal, melainkan juga karena perintah Tuhan.
Johan Amos Comenius merupakan pemikir pendidikan yang dapat digolongkan
pada realisme religious, mengemukakan bahwa semua manusia harus berusaha untuk
mencapai dua tujuan. Pertama, keselamatan dan kebahagiaan hidup yang abadi.
Kedua, keadaan dan kehidupan dunia yang sejahtera dan damai. Tujuan pertama
merupakan tujuan yang inherendalam diri manusia, dimana tujuannya terletak
diluar hidup ini. Pada tujuan yang kedua, Comenius tampaknya memandang
kebahagiaan dan perdamaian dunia merupakan sebahagiaan dari kebahagiaan hidup
yang abadi.
Berbicara tentang pendidikan, Comenius (price, 1962) mengemukakan bahwa
pendidikan harus universal, seragam, dimulai sejak pendidikan yang paling
rendah, dan merupakan suatu kewajiban. Pada tingkat pendidikan yang paling
rendah, dan merupakan suatu kewajiban. Pada tingkat pendidikan yang paling
rendah , anak akan menerima jenis pendidikan yang sama. Pembvawaan dan sifat
manusia sama pada semua orang. Oleh karena itulah, metode, isi, dan proses
pendidikan harus seragam. Namun, manusia tetap berbeda dalam derajatnta, dimana
ia dapat mencapainya. Oleh karena itu, pada tingkatan pendidikan yang paling
tinggi tidak boleh hanya ada satu jenis pendidikan, melainkan harus beraneka
ragam jenis pendidikan. Anak yang cacat pancaindera, jasmani maupun mental,
tidak diperkenankan mengikuti pendidikan, dalam arti bersama-sama dengan anak
normal. Mereka harus mendapatkan pelayanan khusus.
Comenius dalam bukunya “Didacita Magna” (Didaktik besar), dan “Orbis
Sensualium Pictus” (Dunia panca indera dengan gambar-gambar) merupakan peletak
dasar didaktik modern. Ia mengubah cara berfikir anak yan deduktif spekulatif
dengan cara berfikir induktif, yang merupakan metode berfikir ilmiah. Peragaan
merupakan suatu keharusan dalam proses belajar mengajar , sehingga ia dijuluki
sebagai bapak keperagaan dalam belajar mengajar.
Beberapa
prinsip mengajar yang dikemukakan oleh Comenius adalah sebagai berikut :
l Pelajaran harus didasarkan pada minat
siswa keberhasilan dalam belajar tidak karena dipaksakan dari luar, melainkan
merupakan suatu hasil perkembangan dari dalam pribadinya.
l Pada waktu permulaan belajar, guru
harus menyusun out line secara garis besar dari setiap mata pelajaran.
l Guru harus menyiapkan dan
menyampaikan informasi tentang garis-garis besar pelajaran sebelum pelajaran
dimulai, atau pada waktu permulaan pelajaran.
l Kelas harus diisi dengan
gambar-gambar, peta, motto, dan sejenisnya yang berkaitan dengan rencana
pelajaran yang akan diberikan.
l Guru menyampaiakan pelajaran
sedemikian rupa, sehingga pelajaran merupakan suatu kesatuan. Setiap pelajaran
merupakan suatu keseimbangan dari pelajaran sebelumnya, dan untuk perkembangan
pengetahuan secara terus-menerus.
l
Apapun
yang dilakukan guru, hendaknya membantu untuk pengembangan hakikat manusia.
Kepada siswa ditunjukan kepentingan yang praktis dari setiap system nilai.
l
Pelajaran
dalam subjek yang sama diperuntukan bagi semua anak.
2.
Realisme Natural Ilmiah
Realisme natural ilmiah menyertai lahirnya sains eropa pada abad kelima
belas dan keenam belas, yang dipelopori oleh Francis Bacon, John Locke,
Galileo, David Hume, John Stuart Mill, dan lain-lainnya. Pada abad kedua puluh
tercatat pemikiran-pemikiran seperti Ralph Borton Perry, Alferd Nortt
Whitehead, dan Betrand Russel.
Realism natural ilmiah mengatakan bahwa manusia adalah organisme biologis
dengan system syaraf yang kompleks dan secara inheren berpembawaan social
(social disposition). Apa yang dinamakan berfikir merupakan fungsi yang sangat
kompleks dari organism yang berhubungan dengan lingkungannya. Kebanyakan
penganut realism natural menolak eksistensi kemauan keras (free will). Mereka
bersilang pendapat dalam hal bahwa individu ditentukan oleh akibat lingkungan
fisik dan social dalam struktur genetiknya. Apa yang tampaknya bebas memilih ,
kenyataannya merupakan suatudeterminasi kausal (ketentuan sebab akibat).
Menurut realisme natural ilmiah, filsafat mencoba meniru objektivitas
sains. Karena dunia sekitar manusia nyata, maka tugas sainslah untuk meneliti
sifat-sifatnya. Tugas filsafa mengkordinasikan konsep-konsep dan temuan-temuan
sains yang berlainan dn berbeda-beda. Perubahan merupakan realitas yang sesuai
dengan hokum-hukum alam yang permanen, yang menyebabkan akam semesta sebagai
suatu struktur yang berlangsung terus, karena dunia bebas dari manusia dan
diatur oleh hukum alam, dan manusia memiliki sedikit control, maka sekolah
harus menyediakan subject matter yang akan memperkenalkan anak dengan dunia
sekelilingnya.
Pandangannya tentang teori pengetahuan (epistemology), realisme natural
ilmiah mengatakan bahwa dunia yang kita amati bukan hasil kreasi akal atau jiwa
(mind) manusia, melainkan dunia sebagaimana adanya. Subtansialitas, sebab
akibvat, dan aturan-aturan alam bukan suatu proyeksi akal, atau jiwa manusia,
melainkan merupakan suatu penampilan atau penampakan dari dunia atau alam itu
sendiri.
Teori kebenaran yang dipergunakan oleh kaum realism natural ilmiah adalah
teori “korespondensi” tentang kebenaran, yang menyatakan bahwa kebenaran itu
adalah persesuaian terhadap fakta dengan situasi yang nyata, kebenaran
merupakan persesuaian antara pernyataan mengenai fakta dengan faktanya sendiri,
atau antara fikiran dengan realitas situasi lingkungannya. Teori ini sebagai
suatu penolakan terhadap teori koherensi, yang pada umumnya dipergunakan oleh
kaum idealis, yang mengemukakan bahwa pengetahuan itu benar karena selaas atau
bertalian dengan pengetahuannya yang telah ada. Menurut teori korespondensi, pengetahuan
baru itu dikatakan benar apabila sesuai dengan teori atau pengetahuan terdahulu
yang telah ada, karena teori yang telah ada tersebut adalah benar, sesuai
dengan fakta, sesuai dengan situasi nyata.
Jadi, menurut realisme ilmiah, pengetahuan yang shahih adalah pengetahuan
yang diperolah melalui pengalaman empiris, dengan jalan observasi, atau
penginderaan. Teori pengetahuan yang mereka ikuti adalah teori pengetahuan
“empirisme”, seperti yang diuraikan terdahulu. Menurut empirisme, pengalaman
merupakan factor fundamental dalam pengetahuan, sehingga merupakan sumber dari
pengetahuan manusia.
Pandangannya tentang nilai, mereka menolak pendapat bahwa nilai memiliki
sanksi supernatural, kebaikan adalah yang menghubungkan manusia dengan
lingkungannya. Sebaliknya, kejahatan adalah yang menjauhkan manusia dari
lingkungannya. Esensi manusia dan esensi alam adalah tetap, maka nilai yang
menghubungkan antara yang satu dengan yang lainnya adalah tetap.
Lembaga-lembaga dan praktik social diseluruh dunia sangat berlainan dan
berbeda-beda, namun memiliki landasan nilai yang sama. Kaum idealism menganggap
bahwa kaum manusia pada dasarnya sempurna, sedangkan kaum realism natural
menerima sebagaimana adanya, tidak sempurna.
Realisme natural mengajarkan bahwa baik dan salah adalah hasil tentang
pengalaman kita tentang alam, bukan dari prinsip-prinsip nilai agama atau dari
luar ala mini. Moralitas dilandasi oleh hasil penelitian ilmiah yang menunjukan
kemanfaatannya pada manusia sebagai spesies tertinggi dari hewan. Sakit adalah
jahat, dan sehat adalah baik. Manusia harus meningkatkan kebaikan-kebaikan
dengan menggunakan ukuran-ukuran untuk memperbaiki konstitusi genetic,
mengatasi kesejahteraan dengan perbaikan lingkungan dimana manusia hidup.
Mengenai konsep pendidikan realism natural, Brucher (1950) mengemukakan
bahwa pendidikan berkaitan dengan dunia disini dan sekarang. Dunia bukan
sesuatu yang eksternal, tidak abadi, melainkan diatur oleh hukum alam. Jiwa
(mind) merupakan produk alam dan bersifat biologis, berkembang dengan cara
menyesuaikan diri dengan alam. Pendidikan menurut realism natural haruslah
ilmiah dan yang menjadi objek penelitiannya adalah kenyataan dalam alam.
Seorang ahli sains dapat mencatat dengan tepat apa yang dipelajarinya,
termasuk dalam mempelajari kenyataan-kenyataan social. Bagi mereka tidak ada
kesangsian terhadap apa yang dipelajari berdasarkan kenyataan, karena kebeneran
diperolehnya dari kenyataan.
Oleh karena itu, kurikulum yang baik adalah yang berdasarkan data dan
realitas. Mereka mendasarkan penelitian ilmiah melalui psikologi pendidikan dan
sosiologi pendidikan dalam menentukan kurikulumnya. Psikologi mereka adalah
behavioristik. Ide atau jiwa anak yang bersifat supernatural tidak memperoleh
tempat dalam pandangan mereka. Pendidikan cenderung pada naturalism,
materialism, dan makenistik.
Terdapat persamaan wawasan tentang proses pendidikan diantara berbagai
aliran realism. Hal tersebut dikemukakan kneller (1971 : 24 ) sebagai berikut :
“ To impart a
selection of this knowledge to the growing person in the school’s most
important task. The initiative in education, therefore, lies with the teacher
as transmitter of the cultural heritage. It is the teacher, not the student,
who must decide what subject matter should be studied in class. If this subject
matter can be made to satisfy the student personal needs and interest, so much
the better. But satisfying the student personally is far less important than
imparting the right subject matter”.
Baik realisme rasional maupun realisme natural ilmiah sependapat bahwa
menanamkan dan pemilihan pengetahuan yang akan diberikan disekolah adalah
penting. Inisiatif dalam pendidikan adalah terletak pada uru, yang menentukan
bahan pelajaran yang akan dibahas dalam kelas adalah guru, bukan siswa. Materi
atau bahan pelajaran yang baik adalah bahan pelajaran yang memberikan kepuasan
pada minat dan kebutuhan siswa. Namun, yang paling penting bagi guru adalah
bagaimana memilih bahan pelajaran yang benar, bukan memberikan kepuasan
terhadap minat dan kebutuhan siswa hanyalah merupakan alat untuk mencapai
tujuan pendidikan, merupakan suatu strategi mengajar yang bermanfaat.
3.
Neo-Realisme dan Realisme Kritis (Uyoh Sadulloh : 2007 : 110)
Selain aliran-aliran realism diatas, masih ada lagi pandangan-pandangan
lain, yang termasuk realism. Aliran tersebut disebut “Neo-Realisme” dari
Frederick Breed, dan “Realisme Kritis” dari Immanuel Kant. Menurut pandangan
Breed, filsafat pendidikan hendaknya harmoni dengan prinsip-prinsip demokrasi.
Prinsip demokrasi adalah hormat dan menghormati atas hak-hak individu.
Pendidikan sebagai pertumbuhan harus diartikan sebagai menerima arah tuntunan
social dan individual. Istilah demokrasi harus didefinisikan kembali sebagai
pengawasan dan kesejahteraan social.
Selanjutnya Breed mengatakan bahwa, sekolah harus menghantarkan pewarisan
social sedemikian rupa untuk menanamkan kepada generasi muda dengan kenyataan
bahwa kebenaran merupakan unsure penting dari tradisi masyarakat. Berkali-kali
dia menekankan keharusan menolong pemuda untuk menyesuaikan diri pada fakta
yang sebenarnya, pada alam realitas yang bebas, yang menjadi unsure utama atau
yang menjadi tulang punggung pengalaman manusia.
Realisme kritis didasarkan atas pemikiran Immanuel Kant, seorang
pesintesis yan besar. Ia mensitesiskan pandangan-pandangan yan berbeda, antara
empirisme dan rasionalisme, antara skepitisme dan paham kepastian, antara
eudaeomanisme dengan puritanisme. Ia bukan melakukan eklektisisme yang dangkal.
Melainkan, suatu sintesis asli yang menolak kekurangan-kekurangan dari kedua
belah pihak yang disintesiskannya. Dan ia membangun filsafat yang kuat.
Hasil pemikiran Kant merupakan
titik temu antara idealism dan realism, antara empirisme yang dikembangkan
Locke, yang bermuara pada empirisme David Hume, dengan rasionalisme dari
Descartes. Dilihat dari idealism, ia seorang realism kritis. Oleh karena itu,
banyak orang yang mempelajari filsafat dan sejarah filsafat, menanamkan ia
sebagai krisisme.Kritisme Kant dimulai dengan penyelidikan kemampuan dan
batas-batas rasio, berbeda dengan filosof-filosof sebelumnya yang secara
dogmatis apriori mempercayai kemmpuan rasio secara bulat.
Menurut Kant, semua pengetahuan mulai dari pengalaman, namun tidak
berarti semuanya dari pengalaman. Objek luar dikenal melalui indera, namun pikiran
atau rasio, atau pengertian, mengorganisasikan bahan-bahan yang diperoleh dari
pengalaman tersebut. Pikiran tanpa isi adalah kosong, dan tanggapan tanpa
konsepsi adalah buta. Demikian kata Kant. :Thoughts without content are empty,
percepts without concepts are blind” (Henderson, 1959 : 218).
Selanjutnya, menurut Kant, pengalaman tidak hanya sekedar warna, suara,
bau yang diterima alat indera, melainkan hal-hal tersebutdiatur dan disusun
menjadi suatu bentuk yang terorganisasi oleh pikiran kita. Pengalaman merupakan
suatu interpretasi tentang benda-benda yang kita terima melalui alat indera
kita. Dan di dalam interpretasi tersebut kita mempergunakan suatu struktur
untuk mengorganisasi benda-benda.
Lebih lanjut Kant mengemukakan, bahwa manusia telah dilengkapi dengan
seperangkat kemauan, sehingga kita dapat member betuk terhadap data mentah yang
kita amati. Dengan demikian, kita mungkin memiliki pengetahuan apriori, yang
tidak perlu untuk mengalami sendiri untuk mendapatkan pengetahuan yang
fundamental, dan pengetahuan yang aposteriori, pengetahuan yang didasarkan pada
pengalaman. Manusia tidak bisa mengetahui realitas yang sebenarnya, melainkan
suatu realitas di luar pengalaman, dan merupakan objek pengetahuan. Kant
mengaui, bahwa manusia tidak hanya memiliki kemampuan alamiah, melainkan juga
memiliki kemampuan agama dan moral.
Henderson merupakan salah seorang filosof yang dapat digolongkan pada
aliran ini. Ia berpendapat bahwa semua aliran filsafat pendidikan memiliki
beberapa persamaan, yaitu :
“All this
educational philosophies agree that the educative process centers in the task
of developing superior manhood and womanhood ; that our task in this world to
promote justice and the common welfare, and that we should look to the ultimate
purpose of education for direction in solving educational problems”.
Semua aliran
filsafat pendidikan menyetjui bahwa :
l Proses pendidikan berpusat pada tugas
mengembangkan laki-laki dan wanita yang hebat dan kuat.
l Tugas manusia di dunia adalah
memajukan keadilan dan kesejahteraaan umum.
l Kita seharusnya memandang bahwa
tujuan akhir pendidikan adalah memecahkan masalah-masalah pendidikan.
Power (1982)
mengemukakan implikasi pendidikan realisme sebagai berikut :
1) Tujuan
Pendidikan
Penyesuaian
hidup dan tanggung jawab social.
2) Kedudukan
siswa
Dalam hal
pelajaran, menguasai pengetahuan yang handal, dapat dipercaya. Dalam hal
disiplin, peraturan yang baik adalah esensial untuk belajar. Disiplin mental
dan moral dibutuhkan untuk memperoleh hasil yang baik.
3) Peranan
Guru
Menguasai
pengetahuan, terampil dalam teknik mengajar dan dengan keras menuntut prestasi
dari siswa.
4) Kurikulum
Kurikulum
komprehensif mencakup semua pengetahuan yang berguna. Berisikan pengetahuan
liberal dan pengetahuan praktis.
5) Metode
Belajar
tergantung pada pengalaman, baik langsung atau tidak langsung. Metode
penyampaian harus logis dan psikologis. Metode Conditioning (SR)merupakan
metode utama bagi realisme sebagai pengikut behaviorisme.
C. Realisme Dalam Pendidikan ( Purnawan
: 2009 : 24)
1.
Pendidikan Sebagai Institusi Sosial
John Amos Comenius di dalam bukunya Great Didactic, mengatakan bahwa
manusia tidak diciptakan hanya kelahiran biologinya saja. Jika ia menjadi
seorang manusia, budaya manusia harus memberi arah dan wujud kepada kemampuan
dasarnya.
Dalam bukunya Membangun Filsafat Pendidikan, Harry Broudy secara
eksplisit ia menekankan bahwa masyarakat mempunyai hak dengan mengabaikan
keterlibatan pemerintah, yang akan membawa pendidikan formal di bawah wilayah
hukumnya karena ini merupakan suatu lembaga atau institusi sosial.
Implikasinya
: pendidikan adalah kebutuhan dasar dan hak yang mendasar bagi manusia dan
kewajiban penting bagi semua masyarakat untuk memastikan bahwa semua anak-anak
dilahirkan dengan pendidikan yang baik.
2.
Guru dan Siswa
Guru adalah pengelola KBM di dalam kelas (classroom is teacher-centered),
guru penentu materi pelajaran, guru harus menggunakan minat siswa yang
berhubungan dengan mata pelajaran, dan membuat mata pelajaran sebagai sesuatu
yang kongkret untuk dialami siswa. Siswa berperan untuk menguasai pengetahuan
yang diandalkan, siswa harus taat pada aturan dan disiplin, sebab aturan yang
baik sangat diperlukan untuk belajar. Siswa memperoleh disiplin melalui
ganjaran dan prestasi.
3.
Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan realisme adalah untuk “ penyesuaian diri dalam hidup
dan mampu melaksanakan tanggung jawab sosial. Pendidikan bertujuan agar siswa
dapat bertahan hidup di dunia yang bersifat alamiah, memperoleh keamanan dan
hidup bahagia, dengan jalan memberikan pengetahuan esensial kepada siswa.
Pengetahuan tersebut akan memberikan keterampilan-keterampilan yang penting
untuk memperoleh keamanan dan hidup bahagia.
4.
Proses Pendidikan
a)
Kurikulum
Kurikulum
pendidikan sebaiknya meliputi :
l Sains dan Matematika,
l Ilmu-ilmu kemanusiaan dan sosial,
l Nilai-nilai.
Kurikulum yang baik diorganisasi menurut mata pelajaran dan berpusat pada
materi pelajaran (subject matter centered) yang diorganisasi menurut
prinsip-prinsip psikologi belajar. Kurikulum direncanakan dan diorganisasi oleh
guru/orang dewasa (society centered) Isi kurikulum harus berisi pengetahuan dan
nilai-nilai esensial agar siswa dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan alam,
masyarakat, dan kebudayaannya.
b)
Metode
Pendidikan
Pembiasaan merupakan metode utama bagi filsuf penganut behaviorisme
Metode mengajar yang disarankan bersifat otoriter. Guru mewajibkan siswa untuk
dapat menghafal, menjelaskan, dan membandingkan fakta-fakta, menginterprestasi
hubungan-hubungan, dan mengambil kesimpulan makna-makna baru.
c)
Evaluasi
Guru harus menggunakan metode-metode objektif dengan
mengevaluasi dan memberikan jenis tes yang memungkinkan untuk dpt mengukur
secara tepat pemahaman siswa tentang materi-materi esensial. Untuk tujuan
motivasi guru memberikan ganjaran terhadap siswa yang mencapai sukses.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari paparan diatas dapat disimpulkan bahwa Realisme berpendapat bahwa
hakikat realitas adalah terdiri atas dunia fisik dan dunia rohani. Realisme
membagi realitas menjadi dua bagian, yang subjek yang menyadari dan mengetahui
disatu pihak dan dipihak lainnya adalah adanya realita diluar manusia yang
dapat dijadikan sebagai objek pengetahuan manusia. Bahan pendidikan yang
esensial bagi aliran realism klasik adalah
pengalaman manusia. Yang esensial adalah apa yang merupakan penyatuan
dan pengulangan dari pengalaman manusia. Sedangkan Menurut realisme ilmiah,
pengetahuan yang shahih adalah pengetahuan yang diperolah melalui pengalaman
empiris, dengan jalan observasi, atau penginderaan.
Kneller membagi realisme menjadi dua bentuk, yaitu : 1) Realisme
Rasional, 2) Realisme Naturalis. Namun, masih ada lagi pandangan-pandangan
lain, yang termasuk realisme. Aliran tersebut disebut “Neo-Realisme” dari
Frederick Breed, dan “Realisme Kritis” dari Immanuel Kant.
Implikasinya Realisme dalam pendidikan adalah kebutuhan dasar dan hak
yang mendasar bagi manusia dan kewajiban penting bagi semua masyarakat untuk
memastikan bahwa semua anak-anak dilahirkan dengan pendidikan yang baik.
B. Saran
l Perlu dilakukan perubahan yang lebih mengarah
pada kurikulum berbasis kompetensi, serta lebih adaptif terhadap perkembangan
ilmu pengetahuan Dan teknologi, serta kebutuhan masyarakat pada saat ini.
l
Perlunya
ditingkatkan kualitas pendidik dalam usaha Peningkatan mutu pendidikan. Hal ini
dapat dilakukan dengan meggunakan metoda baru dalam pelaksanaan pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR PUSTAKA
·
Adisusilo,
Sutarjo. 1983. Problematika Perkembangan Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta.
·
Gandhi,
Teguh Wangsa. 2010. Filsafat Pendidikan : Madzhab-madzhab Filsafat Pendidikan.
Jogjakarta : Ar-Ruzz Media.
·
Sadullah,
Uyoh. 2007. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung : Alfabeta.
·
Purnawan.
2009. Filsafat Realisme. Bandung : Universitas Pendidikan Bandung
·
Kneller,
George F. 1971. Introduction to The Philosophy of Education. New York : John
Willey Son Inc.
·
Power,
Edward J. 1982. Philosophy of Education. New Jersey : Printice-Hall Inc.
Englewood Cliffs.
·
Henderson,
Stella van Pettern. 1959. Introduction to The Philosophy of Education.Chicago :
The University of Chicago.

No comments:
Post a Comment
Enjoy comment! :D